JAKARTA, GEMADIKA.com – Kabar mengejutkan datang dari dunia sepakbola Asia. Shin Tae-yong, mantan pelatih Timnas Indonesia, disebut-sebut menjadi calon kuat pengganti Branko Ivankovic di kursi pelatih Timnas China. Namun, pria berusia 54 tahun itu langsung membantah keras rumor tersebut.
Ivankovic Dipecat Usai Kalah dari Indonesia
Branko Ivankovic resmi dipecat oleh Asosiasi Sepak Bola China (CFA) setelah gagal membawa Dragon’s Team lolos ke Piala Dunia 2026. Keputusan ini tak lepas dari kekalahan memalukan China 0-1 dari Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 5 Juni 2025.
Gol tunggal Ole Romeny melalui tendangan penalti di menit ke-45 tidak hanya memastikan kemenangan Indonesia, tetapi juga meloloskan Garuda ke babak empat kualifikasi Piala Dunia 2026. Sebaliknya, kekalahan tersebut menjadi paku terakhir dalam peti mati mimpi China untuk tampil di Piala Dunia.
Meski berhasil mengalahkan Bahrain 1-0 di laga terakhir, upaya Ivankovic menyelamatkan posisinya sudah terlambat. Dalam 10 pertandingan kualifikasi, China hanya meraih 9 poin dari 3 kemenangan dan 7 kekalahan, terpuruk di peringkat kelima grup.
Media China Sebut Shin Jadi Kandidat Utama
Setelah pemecatan Ivankovic, berbagai media China seperti Sohu mulai melirik Shin Tae-yong sebagai pengganti yang ideal.
Mantan juru taktik Timnas Indonesia ini dianggap memenuhi kriteria CFA, baik dari segi prestasi maupun aspek finansial.
Gaji Shin yang dilaporkan sekitar 600 ribu dollar AS per tahun hanya sepertiga dari upah Ivankovic.
Selain itu, pengalamannya sukses membawa Indonesia ke babak gugur Piala Asia 2023 untuk pertama kali dalam sejarah menjadi nilai plus tersendiri.
Keunggulan lain yang dimiliki Shin adalah visinya dalam melakukan regenerasi dengan melibatkan pemain diaspora dari Eropa, strategi yang dinilai sesuai dengan keinginan CFA untuk melakukan perombakan menyeluruh.
Shin Tegas Bantah: “Tidak Ada Substansinya”
Namun, rumor tersebut langsung dibantah tegas oleh pihak Shin Tae-yong pada Minggu (15/6/2025) sore WIB. Perwakilan yang tidak disebutkan namanya menegaskan bahwa Shin belum menerima tawaran apa pun dari China.
“Bertentangan dengan apa yang dilaporkan di media-media Indonesia, pelatih Shin Tae-yong belum menerima proposal atau kontak apa pun dari Asosiasi Sepakbola China,” kata perwakilan STY, dilansir dari media Korea Selatan Chosun Biz.
Perwakilan tersebut juga menjelaskan posisi Shin saat ini yang sudah memiliki tanggung jawab besar di Korea Selatan.
“Pelatih Shin saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Asosiasi Sepakbola Korea dan direktur non-eksekutif Seongnam FC. Karena itu, ia saat ini terlibat dalam berbagai kegiatan,” tambahnya.
Yang lebih mengejutkan, perwakilan Shin bahkan menyatakan ketidaktertarikan jika memang ada tawaran dari China.
“Jika ada proposal dari China, saya rasa dia tidak dapat memikirkannya. Tidak ada substansinya,” tegas perwakilan STY.
Karir Shin Pasca Indonesia
Shin Tae-yong sudah tidak menangani tim mana pun sejak dipecat PSSI dari Timnas Indonesia pada Januari 2025. Setelah kembali ke tanah air, ia langsung ditunjuk sebagai Wakil Presiden Asosiasi Sepakbola Korea Selatan (KFA) pada April 2025.
Posisi strategis ini menunjukkan bahwa Shin lebih memilih berkontribusi pada pengembangan sepakbola Korea Selatan ketimbang kembali melatih tim nasional negara lain.
China Masih Berburu Pelatih Ideal
Sementara itu, CFA masih terus mencari sosok pelatih yang tepat untuk mengembalikan kejayaan sepakbola China. Selain Shin Tae-yong, beberapa nama lain juga masuk dalam bursa calon, termasuk Zheng Zhi yang saat ini melatih Timnas U21 China.
Ada pula suara dari publik yang menginginkan kembalinya Gao Hongbo, pelatih yang pernah sukses menangani Timnas China dan dinilai memahami karakter para pemainnya.
Tekanan waktu semakin menguat mengingat China akan menghadapi Korea Selatan di Piala Asia Timur pada 7 Juli 2025. CFA harus segera memutuskan siapa yang akan memimpin tim dalam turnamen tersebut.
“Mengingat China akan melawan Korea Selatan di Piala Asia Timur pada 7 Juli 2025, proses penunjukan pelatih yang baru harus berjalan lebih cepat dan matang,” demikian pentingnya keputusan ini bagi masa depan sepakbola China. (Mond)




