JAKARTA, GEMADIKA.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan dengan nada positif pada awal sesi hari ini, Rabu (12/11/2025). Penguatan tipis ini menjadi angin segar setelah indeks ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Realtime Trading Information (RTI), IHSG naik 19,75 poin atau setara 0,24 persen ke level 8.386,27 pada pembukaan pasar. Sejak bell perdagangan dibunyikan, indeks bergerak fluktuatif di rentang 8.377,49 hingga 8.397,21.

Aktivitas perdagangan di pasar saham cukup aktif pada pagi ini. Volume perdagangan tercatat mencapai 7,34 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp2,45 triliun. Frekuensi transaksi pun terbilang tinggi dengan 326.944 kali transaksi hingga pukul 09.14 WIB.

Dari sisi pergerakan saham individual, sebanyak 245 saham menguat dan berwarna hijau di papan elektronik. Sementara itu, 228 saham melemah dan 196 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.

Sektor Non-Cyclical Pimpin Penguatan

Penguatan IHSG pada pagi ini ditopang oleh kinerja positif sejumlah sektor. Berdasarkan data perdagangan pukul 09.14 WIB, sektor non-cyclical tampil sebagai penopang utama dengan lonjakan impresif sebesar 1,50 persen.

Sektor teknologi juga mencatatkan performa gemilang dengan kenaikan 1,34 persen, menunjukkan minat investor terhadap saham-saham berbasis teknologi masih cukup kuat. Sektor infrastruktur turut memberikan kontribusi positif dengan penguatan 1,26 persen.

Tak ketinggalan, sektor transportasi dan logistik ikut menghijaukan papan bursa dengan kenaikan 1,17 persen. Sektor barang siklikal atau cyclical bergerak naik moderat 0,26 persen, sementara sektor keuangan—yang biasanya menjadi motor penggerak IHSG—bergerak tipis positif hanya 0,02 persen.

Di sisi lain, sejumlah sektor masih harus berjuang di zona merah. Sektor energi tercatat terkoreksi 0,30 persen, kemungkinan dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas global.

Sektor properti dan kesehatan kompak melemah masing-masing 0,42 persen. Kedua sektor ini masih menghadapi tekanan dari berbagai sentimen pasar. Sementara itu, sektor industri dasar turun 0,16 persen dan sektor manufaktur melemah tipis 0,09 persen.

Analis: Peluang Rebound Masih Terbuka

Analis MNC Sekuritas Indonesia, Herditya Wicaksana, sebelumnya memberikan pandangan optimistis terhadap pergerakan IHSG. Menurutnya, pelemahan yang terjadi belakangan ini masih bersifat teknikal dan membuka peluang untuk terjadinya rebound atau pembalikan arah dalam waktu dekat.

Dari hasil risetnya, IHSG telah mencapai area koreksi yang sebelumnya diproyeksikan. Berdasarkan skenario terbaik atau best case scenario, IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii] dalam analisis gelombang Elliott.

“Best case (hitam), IHSG masih berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii], sehingga IHSG masih berpeluang menguat ke rentang area 8.487-8.539. Cermati area 8.279-8.332 sebagai area koreksi berikutnya,” ujar Herditya melalui analisis hariannya.

Secara teknikal, level-level penting yang perlu dicermati investor adalah support di 8.332 dan 8.276, yang menjadi area penahan jika terjadi pelemahan. Sementara untuk resistance atau level penahan kenaikan berada di 8.488 dan 8.532.

Proyeksi Bergerak Terbatas

Pandangan berbeda datang dari Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, yang menilai IHSG diperkirakan bergerak cenderung melemah terbatas pada perdagangan Rabu hari ini.

Indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) menunjukkan tren yang mulai melandai, sementara indikator Relative Strength Index (RSI) juga mengalami penurunan. Kondisi ini menandakan momentum penguatan mulai terbatas dan tekanan jual masih terasa di pasar.

“Pasar masih akan dipengaruhi oleh rilis kinerja emiten 3Q25, pelemahan nilai rupiah terhadap dollar AS, dan penantian rilis data inflasi AS yang akan mempengaruhi stand Fed pada kebijakan suku bunga,” papar Oktavianus.

Sentimen yang Mempengaruhi Pasar

Beberapa faktor kunci yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG dalam waktu dekat antara lain laporan kinerja keuangan emiten untuk kuartal ketiga 2025 (3Q25) yang masih terus dirilis. Kinerja perusahaan-perusahaan akan menjadi penentu arah pergerakan saham individual maupun indeks secara keseluruhan.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi perhatian pelaku pasar. Rupiah yang melemah dapat berdampak pada kinerja emiten yang memiliki utang dalam mata uang asing.

Selain itu, pasar global juga tengah menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan mempengaruhi sikap The Federal Reserve (The Fed) terhadap kebijakan suku bunga ke depan. Data inflasi AS akan menjadi indikator penting apakah The Fed akan melanjutkan kebijakan pelonggaran atau justru mempertahankan suku bunga tinggi.

Investor disarankan untuk tetap waspada dan cermat dalam mengambil keputusan investasi dengan memperhatikan level-level support dan resistance yang telah disebutkan para analis. (*)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami