JAKARTA, GEMADIKA.com — Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya angkat bicara soal penanganan bencana alam yang melanda Sumatera. Ia memastikan bahwa pemerintah terus bergerak secara masif menangani dampak bencana yang terjadi sejak akhir November 2025.

Pemaparan detail dari Seskab Teddy ini menjadi jawaban atas berbagai kritik tajam yang menyerang pemerintah. Banyak pihak menilai penanganan bencana Sumatera tidak optimal dan lambat, padahal sejak hari pertama kejadian, pemerintah pusat dan daerah telah bergerak cepat.

Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, menilai langkah Seskab Teddy menjelaskan progres penanganan bencana sangat penting untuk menjawab keresahan publik.

“Menurut saya ada kesempatan luar biasa bagi pemerintah dalam menjelaskan penanganan bencana Sumatera yang seolah-olah (disebut) tidak optimal,” ujar Trubus, Selasa (23/12/2025).

Trubus menjelaskan, pemerintah sebenarnya terus bergerak dalam melakukan penanganan bencana. Namun, wilayah yang terdampak sangat luas sehingga penanganan membutuhkan waktu dan koordinasi yang kompleks.

Menurutnya, kondisi penanganan bencana saat ini berbeda dengan Tsunami Aceh 2004, di mana pemerintah menetapkan status bencana nasional karena keterbatasan sumber daya dan kelembagaan pada masa itu.

Baca juga :  Bukan Hanya 2 Jurnalis Republika! Total 9 WNI Ditangkap Tentara Israel di Kapal Flotilla Gaza

“Misalnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) belum terbentuk, kemudian anggaran APBD juga belum ada mengenai status tanggap darurat, sehingga pilihannya cuma menetapkan bencana nasional,” jelasnya.

Kini, dengan sistem penanggulangan bencana yang lebih matang, Trubus mendorong adanya kemandirian pemerintah daerah dalam penanganan bencana. Ia menilai kondisi yang terjadi di Sumatera menandakan masih lemahnya kapasitas pemda dalam menangani bencana, baik saat kejadian maupun pascabencana.

“Harusnya pada pra itu kan ada sosialisasi, pendidikan dan lain-lain, contoh di Yogyakarta, ketika gunung meletus itu warganya tidak teriak-teriak karena sudah tau mau ke mana. Atau Lumajang saat Gunung Semeru meletus,” katanya.

Trubus menambahkan, langkah Seskab Teddy yang menjelaskan secara detail penanganan bencana Sumatera setidaknya menjawab keresahan dan dinamika persepsi publik yang berkembang di masyarakat.

“Ya menjawab keresahan publik, paling tidak menjawab dinamika yang terjadi di persepsi publik, karena bencana ini jadi menimbulkan persepsi publik,” pungkasnya.

Sebelumnya, Seskab Teddy menjelaskan secara komprehensif penanganan bencana yang dilakukan pemerintah di Sumatera. Pernyataan itu sekaligus menepis berbagai narasi yang seolah-olah pemerintah tidak bekerja.

Baca juga :  Lindi Fitriyana Murka ke Eva Manurung, Bantah Curhat Trauma 8 Tahun Belum Punya Anak

Padahal, sejak hari pertama bencana terjadi pada 26 November 2025, pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah bergerak cepat melakukan penanganan berskala nasional dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait.

“Kita butuh kerja sama, kekompakan, energi positif. Kalau niat bantu, ayo sama-sama hibur warga, timbulkan optimisme, bikin senyum. Kita saling bantu, saling jaga, dan saling dukung,” ujar Teddy dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Pemerintah telah mengerahkan ribuan personel gabungan TNI, Polri, BNPB, Basarnas, dan relawan untuk melakukan evakuasi korban, pendistribusian bantuan logistik, hingga pemulihan infrastruktur yang rusak akibat bencana.

Selain itu, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan bantuan sampai ke seluruh wilayah terdampak dan tidak ada korban yang terlewatkan dalam pendataan.

Seskab Teddy menekankan pentingnya energi positif dan solidaritas dalam menghadapi bencana, bukan saling menyalahkan yang justru menghambat proses pemulihan.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami