JAKARTA,GEMADIKA.com – Kebiasaan makan larut malam saat sedang mengalami stres ternyata tidak bisa dianggap sepele. Penelitian terbaru mengungkap bahwa kombinasi keduanya berpotensi meningkatkan risiko gangguan pencernaan, seperti sembelit hingga diare.

Temuan ini dilaporkan dalam riset yang dipresentasikan pada ajang Digestive Disease Week pada Mei 2026 dan dikutip dari laporan CNN (8/6/2026). Meski masih berupa data awal dan belum melalui proses peer-review, hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang cukup signifikan antara waktu makan, tingkat stres, dan kesehatan usus.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa individu yang mengonsumsi lebih dari 25 persen total kalori harian setelah pukul 21.00, serta berada dalam kondisi stres tinggi, memiliki risiko hingga 2,5 kali lebih besar mengalami pola buang air besar yang tidak normal dibandingkan kelompok lainnya.

Bukan Sekadar Makan Malam, Tapi Kombinasi dengan Stres

Penulis utama penelitian, Dr. Harika Dadigiri, menjelaskan bahwa selama ini sebagian besar penelitian lebih fokus pada dampak makan larut malam terhadap gangguan tidur, diabetes, obesitas, hingga penyakit asam lambung.

Baca juga :  Beredar Kabar Tuntutan terhadap Nadiem Makarim dalam Kasus Chromebook, Publik Menanti Kepastian Resmi

Namun, penelitian ini mencoba melihat hubungan yang lebih spesifik terhadap kesehatan usus.

“Saya sendiri termasuk orang yang sering makan larut malam, dan saya tidak menemukan banyak penelitian tentang topik ini,” kata Dadigiri.

Penelitian ini menganalisis data lebih dari 11.000 peserta dari National Health and Nutrition Examination Survey milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, serta lebih dari 4.100 peserta dari American Gut Project.

Hasilnya menunjukkan bahwa makan larut malam saja tidak secara langsung menyebabkan gangguan pencernaan. Namun, ketika dikombinasikan dengan stres kronis, dampaknya menjadi lebih signifikan terhadap kesehatan usus.

Dampak pada Mikrobioma Usus

Analisis lanjutan terhadap peserta American Gut Project juga menemukan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan makan larut malam dan tingkat stres tinggi cenderung memiliki keragaman bakteri usus yang lebih rendah.

Menurut Dr. Geoffrey Preidis, Associate Professor of Pediatrics di Baylor College of Medicine dan Texas Children’s Hospital, mikrobiota usus yang beragam sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh.

Baca juga :  Disclosure Day Tayang di Indonesia, Spielberg Hadirkan Misteri Ekstraterestrial yang Mengguncang Pemahaman Manusia

“Mikrobiota usus adalah kumpulan seluruh organisme, termasuk bakteri, virus, dan jamur yang hidup di dalam usus,” jelas Preidis.

Ia menambahkan bahwa mikrobioma usus yang sehat dan beragam memiliki kemampuan lebih baik dalam memulihkan diri dari gangguan, seperti penyakit, penggunaan obat-obatan, maupun stres.

Selain berperan dalam penyerapan nutrisi, mikroorganisme dalam usus juga berfungsi mengatur sistem kekebalan tubuh serta berkomunikasi dengan otak yang dapat memengaruhi kualitas tidur dan kondisi emosional seseorang.

Pentingnya Pola Hidup Seimbang

Temuan ini memperkuat pentingnya menjaga pola makan dan mengelola stres secara seimbang. Kebiasaan makan larut malam yang disertai tekanan psikologis berlebih berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan pencernaan.

Oleh karena itu, para ahli menyarankan untuk mengatur waktu makan secara teratur serta menjaga kesehatan mental guna menghindari risiko gangguan pada sistem pencernaan.

Dilansir dari Kompas.com

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami