JAKARTA, GEMADIKA.com – Banyak orang tua menghadapi situasi ketika anak menangis, marah, atau mengamuk saat ponsel maupun tablet diambil. Kondisi tersebut sering membuat orang tua memilih mengalah dengan memberikan kembali gadget agar anak berhenti menangis.

Padahal, menurut psikolog dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Aisyah Almas Silmina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, kebiasaan tersebut justru dapat memperkuat ketergantungan anak terhadap gadget.

Mengutip KOMPAS.com, Aisyah menjelaskan bahwa tantrum saat gadget diambil merupakan hal yang dapat terjadi, terutama jika anak sudah terbiasa menggunakan gadget tanpa batas waktu.

Jangan Langsung Berikan Gadget Kembali

Aisyah mengatakan, salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah langsung menyerahkan kembali gadget ketika anak mulai menangis atau mengamuk.

“Kalau fungsi tantrumnya adalah untuk mendapatkan gadget, jangan sampai setiap kali anak menangis gadget langsung diberikan. Nanti pola itu akan terus terbentuk,” jelas Aisyah dalam Talkshow Keluarga Sehat Kementerian Kesehatan.

Menurutnya, orang tua perlu konsisten menerapkan aturan yang telah disepakati terkait penggunaan gadget.

Baca juga :  Batasi Konsumsi Garam Selama Seminggu, Tekanan Darah Bisa Turun Setara Efek Obat Hipertensi

Tunggu Anak Hingga Tenang

Saat anak sedang meluapkan emosinya, orang tua disarankan tidak langsung mengajak berdiskusi.

Sebaiknya, biarkan anak menenangkan diri terlebih dahulu sambil memastikan kondisinya tetap aman. Setelah emosinya mereda, orang tua dapat mengajak anak berbicara dan mengingatkan kembali aturan penggunaan gadget.

Cara ini membantu anak memahami bahwa setiap masalah dapat diselesaikan melalui komunikasi, bukan dengan menangis atau mengamuk.

Alihkan ke Aktivitas yang Menyenangkan

Aisyah juga menyarankan agar orang tua tidak hanya mengambil gadget tanpa memberikan kegiatan pengganti.

Anak dapat diajak melakukan aktivitas lain seperti bermain di taman, menggambar, membuat kerajinan tangan, membaca buku cerita, bermain musik, berenang, atau memainkan permainan tradisional.

Menurutnya, ketika anak menemukan kegiatan yang menarik, keinginan menggunakan gadget akan berkurang secara bertahap.

Terapkan Aturan Secara Konsisten

Konsistensi menjadi kunci utama dalam mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget.

Orang tua dapat menetapkan jadwal penggunaan gadget setiap hari serta menentukan area tertentu di rumah yang diperbolehkan untuk menggunakannya, misalnya hanya di ruang keluarga.

Baca juga :  Konservasi Air Jadi Kunci Jaga Kesehatan Masyarakat, Sungai Pusur Bertransformasi Lewat Kolaborasi

Sebaliknya, penggunaan gadget sebaiknya dihindari saat makan bersama maupun di kamar tidur agar interaksi keluarga tetap terjaga.

Orang Tua Harus Menjadi Contoh

Selain membuat aturan, orang tua juga perlu memberikan teladan dalam menggunakan gadget secara bijak.

Aisyah menilai anak cenderung meniru kebiasaan orang tuanya. Oleh karena itu, akan sulit meminta anak mengurangi penggunaan gadget apabila orang tua sendiri terus-menerus sibuk dengan ponsel.

Meluangkan waktu untuk bermain, mengobrol, atau melakukan aktivitas bersama tanpa gangguan gadget dapat membantu anak menikmati kebersamaan dengan keluarga.

Kapan Harus Berkonsultasi?

Apabila anak terus mengalami tantrum yang berat, sulit beraktivitas tanpa gadget, atau berbagai upaya yang dilakukan tidak menunjukkan hasil, orang tua disarankan berkonsultasi dengan psikolog.

Pendampingan profesional dapat membantu menemukan penyebab perilaku anak sekaligus memberikan strategi yang tepat untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget.

Sumber: KOMPAS.com.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami