JAKARTA, GEMADIKA.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali JAKARTA, GEMADIKA.com – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkap hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 13,3 persen remaja di DKI Jakarta mengalami penurunan fungsi paru akibat paparan polusi udara. Temuan tersebut diperoleh dari penelitian terhadap siswa yang bersekolah di kawasan dengan tingkat polusi udara tinggi.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi, dr. Cynthia Centauri, Sp.A(K), Subsp. Resp, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan di salah satu sekolah di Jakarta yang memiliki paparan polusi udara tertinggi dalam enam bulan terakhir.

“Saya waktu itu meneliti sebuah sekolah di Jakarta yang pajanan polutannya paling tinggi di enam bulan terakhir,” kata dr Cynthia dalam temu media daring, Selasa (7/7/2026).

Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa sebagian remaja yang tampak sehat ternyata telah mengalami gangguan fungsi paru meski belum menunjukkan gejala.

Baca juga :  Inflamasi Kronis Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke, Kenali Bahayanya

“Dari situ saya mendapatkan bahwa sebanyak 13,3 persen anak yang tampaknya sehat, nggak ada gangguan aktivitas, nggak sesak (napas), bersekolah bisa, sudah ada penurunan fungsi paru,” sambungnya.

Menurut dr. Cynthia, semakin tinggi kadar partikel polutan, terutama PM2.5, maka semakin besar risiko terjadinya penurunan fungsi paru pada anak dan remaja.

“Artinya apa? Gangguan fungsi paru ini sudah ditemukan bahkan sejak anak tampak sehat,” katanya.

Langkah Pencegahan

IDAI mengingatkan bahwa polusi udara dapat berdampak pada berbagai organ tubuh, terutama sistem pernapasan anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Karena itu, masyarakat diimbau melakukan berbagai langkah pencegahan, di antaranya:

Tidak membakar sampah.
Tidak merokok di sekitar anak.
Menunda membawa anak ke lokasi renovasi rumah.
Menggunakan masker saat kualitas udara buruk.
Menghindari jalan dengan tingkat polusi tinggi.
Menutup jendela kendaraan saat melintas di kawasan berpolusi.
Memantau kualitas udara melalui Air Quality Index (AQI).
Menggunakan pembersih udara (air purifier) yang dilengkapi filter HEPA.
Menanam tanaman hijau di lingkungan sekitar.

Baca juga :  Dokter Ungkap Persiapan Penting Agar Persalinan Berjalan Aman, Lancar, dan Nyaman

Di akhir keterangannya, dr. Cynthia mengingatkan bahwa dampak polusi udara terhadap anak tidak boleh dianggap sepele.

“Polusi udara dapat menyebabkan gangguan pada berbagai organ tubuh manusia, terutama anak. Namun pada anak bisa berakibat fatal, atau bahkan mengancam nyawa,” tutupnya.

Para ahli berharap masyarakat semakin peduli terhadap kualitas udara di lingkungan sekitar dan mulai menerapkan langkah-langkah sederhana untuk melindungi kesehatan anak sejak dini.

Dilansir dari Detihelt.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami