JAKARTA, GEMADIKA.com – Inflamasi atau peradangan merupakan respons alami tubuh ketika menghadapi cedera, infeksi, maupun zat yang dianggap berbahaya. Dalam kondisi normal, proses ini berfungsi membantu sistem kekebalan tubuh memperbaiki jaringan yang rusak dan melawan infeksi.

Namun, jika inflamasi berlangsung dalam jangka panjang atau bersifat kronis, kondisi tersebut justru dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, terutama penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.

Inflamasi kronis pada sistem kardiovaskular dapat terjadi di pembuluh darah maupun jaringan jantung. Berbeda dengan peradangan akibat infeksi yang biasanya menimbulkan gejala, inflamasi kronis sering kali berlangsung tanpa disadari karena tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas.

Meski demikian, proses tersebut secara perlahan dapat merusak dinding pembuluh darah dan memicu terbentuknya plak aterosklerosis.

Baca juga :  Konservasi Air Jadi Kunci Jaga Kesehatan Masyarakat, Sungai Pusur Bertransformasi Lewat Kolaborasi

Secara sederhana, pembuluh darah dapat diibaratkan seperti pipa air. Ketika lapisan bagian dalam pembuluh darah terus mengalami iritasi akibat inflamasi, lemak, kolesterol, serta sel-sel radang akan menumpuk dan membentuk plak. Penumpukan tersebut menyebabkan pembuluh darah menjadi semakin sempit dan kaku sehingga aliran darah terganggu.

Kondisi ini meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah yang dapat berujung pada serangan jantung maupun stroke apabila tidak ditangani dengan baik.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa inflamasi menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan penyakit jantung, bahkan pada seseorang yang telah mengendalikan kadar kolesterolnya.

Presiden Novo Nordisk Filip Knop mengatakan temuan tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam penanganan penyakit kardiovaskular saat ini.

“Memahami cakupan risiko inflamasi kardiovaskular merupakan hal yang sangat penting, seiring dengan berlanjutnya riset berbasis inovasi yang kami lakukan untuk mengembangkan terapi pertama kalinya yang berpotensi menjawab kebutuhan medis penting yang hingga saat ini masih belum terpenuhi,” ujarnya.

Baca juga :  Hari Bhayangkara ke-80, Ditreskrimum Polda Metro Jaya Meriahkan Pulau Tidung dengan Lomba Rakyat dan Bakti Sosial

Para ahli menekankan pentingnya menjaga gaya hidup sehat untuk mengurangi risiko inflamasi kronis, di antaranya dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, mengelola stres, serta mengendalikan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol.

Deteksi dini serta pengelolaan faktor risiko menjadi langkah penting untuk mencegah berkembangnya penyakit kardiovaskular yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia.

Dilansir dari Kompascom.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami