GEMADIKA.com – Kebakaran hutan besar yang melanda wilayah Israel tengah sejak Rabu dini hari tidak hanya menghanguskan ribuan hektar lahan, tetapi juga memicu krisis politik yang semakin dalam di negara yang sudah dilanda perpecahan. Bencana alam ini dengan cepat berubah menjadi arena pertarungan politik saat tokoh-tokoh pemerintah dan oposisi saling menuding tentang penyebab dan penanganan kebakaran.
Sedikitnya 10 kota dan komunitas telah dievakuasi akibat kebakaran yang menyebar dengan cepat di wilayah Israel tengah, menurut pernyataan resmi kepolisian Israel. Sementara itu, data medis melaporkan setidaknya 20 orang memerlukan perawatan medis, sebagian besar karena menghirup asap.
Berdasarkan perkiraan Dana Nasional Yahudi, kebakaran hutan di perbukitan Yerusalem telah menghancurkan sekitar 11.700 dunam (2.891 hektar) lahan hutan. Taman Kanada di dekat wilayah Latrun dilaporkan hampir seluruhnya terbakar. Kerusakan parah juga dialami oleh beberapa hutan lain antara Yerusalem dan Tel Aviv, termasuk Hutan Eshtaol, Taman Anava, dan Hutan Shoresh, sebagaimana dilaporkan harian Yedioth Ahronoth.
Situasi genting memaksa otoritas setempat menutup Rute 1, jalan raya utama yang menghubungkan Tel Aviv ke Yerusalem. Adegan kekacauan terjadi ketika penduduk terpaksa meninggalkan kendaraan mereka dan melarikan diri dengan berjalan kaki saat api mendekati jalan raya.
“Api menyebar dengan sangat cepat karena kombinasi suhu tinggi dan angin kencang,” kata juru bicara layanan pemadam kebakaran Israel dalam konferensi pers darurat, Kamis (1/5).
Pihak berwenang Israel mengatakan sebanyak 163 tim pemadam kebakaran tengah berupaya memadamkan api, termasuk 21 kendaraan segala medan (ATV) dan pesawat Shimshon. Dua belas pesawat pemadam kebakaran juga dikerahkan pada Kamis pagi. Besarnya bencana memaksa Israel mencari bantuan internasional dari Yunani, Kroasia, Italia, dan Pemerintah Siprus Yunani.
Di tengah upaya pemadaman, kontroversi politik memanas setelah Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir memerintahkan pengiriman sekitar 14.000 personel keamanan di seluruh Israel, dengan mengisyaratkan adanya dugaan pembakaran sengaja.
Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa dinas keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, telah bergabung dalam investigasi untuk mengidentifikasi penyebab kebakaran. Namun, hingga saat ini, penjelasan resmi tetap menyebutkan suhu tinggi dan angin kencang sebagai faktor utama cepatnya penyebaran api, karena belum ditemukan bukti yang mengarah pada pembakaran sengaja.
Situasi semakin memanas ketika Yair Netanyahu, putra Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengisyaratkan dalam unggahan media sosialnya bahwa aktivis sayap kiri mungkin berada di balik kebakaran tersebut.
“Ada yang mencurigakan di sini,” tulis Yair Netanyahu di X, menuduh kelompok kiri berusaha membatalkan perayaan hari kemerdekaan Israel. “Kaum kiri Kaplanis telah berusaha mati-matian dalam beberapa minggu terakhir untuk membatalkan perayaan Hari Kemerdekaan dan upacara penyalaan obor,” tambahnya.
Hari Kemerdekaan yang dimaksud, yang menandai berdirinya Israel pada tahun 1948, bertepatan dengan peringatan Nakba yang diperingati warga Palestina, merujuk pada pemindahan massal warga Palestina selama periode ketika geng-geng Zionis melakukan pembantaian terhadap warga sipil.
“Tuduhan tak berdasar Yair Netanyahu terhadap kelompok dan aktivis sayap kiri, yang disampaikan tanpa bukti, menyoroti jurang pemisah yang semakin dalam antara pemerintah Israel dan oposisi,” ulas Anews, Jumat (2/5/2025).
Harian Haaretz mengutip Tomer Lotan, mantan pejabat keamanan Israel, yang mengkritik keras Ben-Gvir. Menurutnya, Ben-Gvir telah melemahkan kesiapan pemadaman kebakaran dengan menolak proposal pada tahun 2022 untuk membeli helikopter Black Hawk bagi polisi, yang merupakan bagian dari rencana nasional untuk memerangi kebakaran hutan besar.
“Tidak ada contoh yang lebih jelas tentang ketidakbertanggungjawaban dan bahaya penunjukan Ben-Gvir sebagai menteri,” kata Lotan, mengacu pada kebakaran yang sedang terjadi.
Sementara itu, Channel 12, media lokal Israel, melaporkan bahwa klaim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait penyebab kebakaran hutan di Jerusalem Hills adalah palsu. Netanyahu sebelumnya mengungkapkan pasukan keamanan Israel telah menangkap 18 orang mencurigakan karena memulai kebakaran di Yerusalem.
“Saya ingin memperlihatkan dukungan saya kepada para pemadam kebakaran dan semua yang membantu melindungi tanah ini,” ujar Netanyahu dikutip dari The Jerusalem Post, Kamis (1/5/2025). “Kami telah menahan 18 orang, salah satunya ditangkap saat tengah beraksi,” ucapnya.
Namun, Channel 12 melaporkan fakta yang berbeda. “Berbeda dengan pernyataan Netanyahu, kebakaran utama di Jerusalem Hills, tidak dimulai secara sengaja,” bunyi laporan Channel 12 dikutip dari Middle East Monitor. Mereka mengungkapkan bahwa kebakaran hutan itu terjadi karena disebabkan oleh kelalaian.
Channel 12 menambahkan bahwa hanya tiga orang yang ditangkap, dan ketiganya tak memiliki hubungan dengan kebakaran di dekat Yerusalem. Kepolisian Israel juga menolak pernyataan Netanyahu, dan mengonfirmasikan tak ada 18 orang ditangkap atas kecurigaan penyebab api di Yerusalem.
Sementara pertarungan politik berlangsung, kebakaran terus menyebar ke area besar hutan dan tanah pertanian di Yerusalem dan Tel Aviv, bahkan telah mencapai Lembah Yordania. Badan Meteorologi Israel memperingatkan bahwa api akan berlanjut menyebar karena angin besar yang terus terjadi.
Perpecahan politik yang semakin dalam ini bermula dari ketidaksepakatan atas pelaksanaan perang di Gaza, khususnya penolakan pemerintah untuk berunding dengan Hamas guna mengakhiri perang dengan imbalan tawanan Israel yang ditahan di Gaza.


