GROBOGAN, GEMADIKA.com – Warga Dusun Masuhan, Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, kembali menggelar Tradisi Sedekah Bumi dengan penuh kekhidmatan pada Rabu Pon,(21/5/2025).
Bertempat di kawasan Wisata Religi Punden Sigit, kegiatan ini menjadi wujud syukur masyarakat atas hasil bumi dan keselamatan selama setahun terakhir.

Sedekah Bumi merupakan tradisi turun-temurun yang diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur. Prosesi diawali dengan ritual tumpengan, diiringi dengan seni Tayub, kesenian tradisional khas Grobogan yang memiliki nilai spiritual dan menjadi elemen penting dalam rangkaian acara.
Menurut Ketua Panitia, Bapak Agung, keberadaan seni Tayub bukan sekadar pertunjukan, melainkan unsur penting agar ritual berjalan lancar.

“Kalau tidak diiringi Tayub, biasanya ritual Sedekah Bumi berjalan kurang lancar. Sudah menjadi bagian dari tradisi kami,” ungkapnya.
Puncak prosesi digelar pada pukul 13.00 WIB dengan pelaksanaan ritual sesaji di Punden Sigit, lokasi yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual dan menjadi pusat adat istiadat warga Dusun Masuhan.
Kepala Desa Bandungharjo menambahkan, ritual ini merupakan bagian dari warisan yang ditinggalkan para leluhur, di antaranya sosok Nyai Kaki Duduk Wari, yang dipercaya sangat mencintai seni Tayub.
“Nyai Kaki Duduk Wari, adalah leluhur kami. Menurut cerita turun-temurun, beliau sangat menyukai seni Tayub. Maka dari itu, setiap acara Sedekah Bumi di sini selalu diiringi Tayub. Kalau tidak, bisa saja membuat acara menjadi tidak lancar itulah mitos yang dipercaya secara turun-temurun,” jelas Kepala Desa.
Tradisi Sedekah Bumi ini rutin dilaksanakan setiap bulan Apit dalam kalender Jawa, menjadi momentum spiritual dan budaya yang sangat dinanti warga. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi antarwarga dan bentuk nyata pelestarian budaya Jawa yang sarat makna.
Masyarakat menyambut acara ini dengan antusias. Selain sebagai bentuk syukur, pelaksanaan Sedekah Bumi juga memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap adat istiadat yang telah hidup di tengah masyarakat selama berabad-abad.
( joko purnomo )





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan