IRAN, GEMADIKA.com – Iran untuk pertama kalinya menggunakan rudal balistik canggih bernama Sejjil dalam serangan langsung ke Israel, senjata yang dijuluki ‘burung ababil’ ini menjadi bagian dari operasi pembalasan terbesar Iran terhadap Israel, Jumat (20/6/2025).
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan rudal balistik jarak menengah Sejjil-2 sebagai bagian dari serangan besar-besaran ke wilayah Israel. Ini menandai penggunaan pertama senjata strategis tersebut dalam konflik bersenjata langsung antara kedua negara.
Peluncuran rudal Sejjil menjadi sorotan utama karena Iran selama ini lebih mengandalkan rudal berbahan bakar cair seperti Shahab-3. Kini, Iran memperlihatkan kemampuan senjata berbahan bakar padat yang lebih cepat dan sulit dideteksi.
Menurut IranWire, sebagaimana dilansir The Economic Times, peluncuran rudal tersebut merupakan bagian dari ‘Operasi Janji Sejati 3’ – rangkaian serangan pembalasan yang diluncurkan Iran.
65IRGC mengklaim telah menghantam beberapa target strategis seperti kantor Mossad, pangkalan angkatan udara, dan pusat intelijen, meski tingkat kerusakan masih diverifikasi oleh pengamat independen dan analis militer.
Sementara itu, akun X (sebelumnya Twitter) Daily Iran Military melaporkan bahwa ‘gelombang kedua belas’ dari operasi tersebut mencakup peluncuran rudal Sejjil ke arah yang mereka sebut sebagai “wilayah pendudukan Palestina.”
Mengutip dari situs CSIS Missile Defense Project, rudal Sejjil adalah rudal balistik jarak menengah (medium-range ballistic missile/MRBM) buatan dalam negeri Iran yang menggunakan bahan bakar padat (solid-propellant).
Keunggulan utama rudal berbahan bakar padat seperti Sejjil dibanding rudal berbahan bakar cair seperti Shahab-3 adalah tidak memerlukan proses pengisian bahan bakar sebelum peluncuran. Hal ini membuatnya lebih cepat dikerahkan dan sulit terdeteksi oleh sistem pertahanan musuh.
Rudal ini menggunakan sistem dua tahap (two-stage) dan dikembangkan sebagai bagian dari program strategis Iran untuk memperkuat kemampuan pertahanannya tanpa bergantung pada teknologi asing.
Kata “Sejjil” (سِجِّيل) memiliki makna mendalam dalam tradisi Islam. Berasal dari bahasa Arab, kata ini disebut dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Fil ayat 4. Dalam konteks tersebut, “sejjil” merujuk pada batu dari “tanah liat yang dibakar” yang digunakan oleh burung Ababil untuk menghancurkan pasukan bergajah yang hendak menyerang Ka’bah.
Pemilihan nama ini bukan kebetulan. Iran ingin menyampaikan pesan simbolis bahwa rudal Sejjil akan menjadi ‘burung ababil’ modern yang melindungi tanah suci dari serangan musuh.
Rudal Sejjil pertama kali diuji coba pada November 2008 dengan jangkauan sekitar 800 km. Pada Mei 2009, Iran melakukan peluncuran kedua untuk menguji sistem pemandu dan navigasi yang lebih akurat, yang kemudian disebut sebagai varian Sejjil-2.
Sejak itu, beberapa uji coba tambahan dilakukan dengan hasil yang semakin menggembirakan, termasuk uji terbang sejauh 1.900 km ke arah Samudra Hindia. Laporan yang belum terkonfirmasi menyebutkan Iran tengah mengembangkan Sejjil-3 dengan tiga tahap, jangkauan hingga 4.000 km, dan bobot peluncuran sekitar 38.000 kg.
Setelah lebih dari satu dekade tidak aktif, rudal Sejjil kembali dimunculkan dalam latihan militer “Nabi Azam 15” pada Januari 2021, sebelum akhirnya digunakan dalam konflik nyata hari ini.
Berdasarkan data dari CSIS Missile Defense Project, berikut spesifikasi lengkap rudal Sejjil:
Identitas:
• Nama lain: Ashoura, Ashura, Sajil, Sajjil
• Jenis: Rudal balistik jarak menengah (MRBM)
• Jangkauan maksimum: Sekitar 2.000 kilometer
• Jenis bahan bakar: Padat (solid-propellant)
• Tahap peluncuran: Dua tahap
• Panjang: Sekitar 18 meter
• Diameter: Sekitar 1,25 meter
• Berat peluncuran: Sekitar 23.600 kilogram
• Kemampuan hulu ledak: Diduga mampu membawa hulu ledak konvensional atau non-konvensional
• Kemampuan peluncuran: Dari platform mobile launcher, meningkatkan fleksibilitas dan kerahasiaan operasi
Kemampuan diluncurkan dari kendaraan mobile memberikan Iran fleksibilitas strategis dan kemampuan bertahan lebih tinggi terhadap serangan pendahulu (pre-emptive strike). (*)





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan