JAKARTA, GEMADIKA.com – Gelombang protes masif bertajuk “Block Everything” (Blokir Segalanya) telah mengguncang Prancis ketika 197.000 demonstran dari berbagai kalangan, khususnya generasi Z, turun ke jalan di seluruh negeri untuk mengekspresikan kemarahan terhadap pemerintahan Presiden Emmanuel Macron, sejak Rabu (10/9/2025).

Aksi yang dimulai dari gerakan media sosial ini berubah menjadi gelombang protes nasional yang memaksa pemerintah mengerahkan lebih dari 80.000 personel keamanan.

Generasi Z Pimpin Revolusi Anti-Elite

Berbeda dengan gerakan “Rompi Kuning” yang didominasi pekerja dan pensiunan pada 2018-2019, demonstrasi “Block Everything” kali ini dipimpin oleh kaum muda Gen-Z yang sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa. Mereka membawa visi perubahan radikal terhadap sistem politik yang dianggap telah gagal.

“Anak muda adalah masa depan, generasi tua meninggalkan kita dengan dunia yang buruk, pemerintahan yang buruk. Kitalah yang harus berjuang untuk mengubahnya dan menari di atas puing-puing dunia lama,” kata Alice Morin (21), seorang mahasiswa yang ikut dalam aksi di Paris.

Emma Meguerditchian (17), pelajar Sorbonne, dengan tegas menyampaikan aspirasi generasinya: “Kami datang untuk bersuara. Kami ingin mereka tahu bahwa kami tidak tahan lagi, kami menginginkan pemerintahan jenis lain.”

Tuntutan Konkret: Keadilan Ekonomi dan Politik

Para demonstran tidak hanya menyuarakan ketidakpuasan, tetapi juga membawa agenda konkret untuk transformasi sistem. Jean-Baptiste (30), salah seorang peserta aksi, menguraikan tuntutan mereka dengan jelas.

“Kami ingin layanan publik yang efektif, pajak yang lebih besar untuk orang kaya, pajak yang lebih kecil untuk orang miskin, dan distribusi kekayaan yang adil,” kata Jean-Baptiste, seperti dikutip AFP.

Gerakan ini mencerminkan kemarahan mendalam terhadap apa yang mereka sebut sebagai elite penguasa yang disfungsional dan bersikeras pada kebijakan penghematan yang merugikan rakyat. Kemarahan semakin menguat setelah pemerintah sebelumnya mengusulkan pemotongan anggaran publik sebesar 44 miliar euro (USD 52 miliar).

Chaos di Seluruh Negeri: Gas Air Mata hingga Penangkapan Massal

Demo “Block Everything” libatkan 197.000 massa Gen-Z di seluruh Prancis menentang kebijakan Macron. Gas air mata ditembakkan, ratusan ditangkap. (Foto Istimewa)

 

Situasi di lapangan mencapai titik paling tegang ketika demonstran memblokir jalan raya dan membakar barikade di berbagai kota. Pihak berwenang Prancis merespons dengan mengerahkan kekuatan penuh, menyingkirkan penghalang dan menyemprotkan selang air ke arah demonstran.

Di Paris, polisi antihuru-hara secara berkala menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Bentrokan terjadi di sela-sela protes di dekat pusat perbelanjaan Chatelet di pusat ibu kota, sementara petugas pemadam kebakaran memadamkan kebakaran yang terjadi di sebuah gedung di dekatnya.

Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat ratusan penangkapan, dengan 415 orang masih ditahan hingga kini. Di Paris sendiri, nyaris 200 orang ditahan dalam berbagai insiden selama aksi berlangsung.

Kekerasan Meluas ke Berbagai Kota

Aksi protes tidak hanya terpusat di Paris, tetapi menyebar ke seluruh negeri dengan intensitas yang bervariasi. Di wilayah barat, para pengunjuk rasa di Nantes memblokir jalan raya dengan membakar ban dan tempat sampah. Polisi terpaksa menggunakan gas air mata untuk membubarkan orang-orang yang mencoba menduduki bundaran.

Di Rennes, situasi semakin memanas ketika sebuah bus dibakar oleh massa. Sementara di Montpellier, di wilayah selatan, polisi menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa yang telah mendirikan barikade untuk memblokir lalu lintas di bundaran. Sebuah spanduk besar di lokasi tersebut dengan tegas bertuliskan: “Macron mengundurkan diri”.

Di luar stasiun kereta Gare du Nord di Paris, ratusan pemuda meneriakkan slogan-slogan anti-Macron. Salah satu dari mereka membawa plakat berbendera Tricolor dengan slogan provokatif “Republik Elite Kaya”.

Krisis Politik Bertepatan dengan Pelantikan PM Baru

Kerusuhan massal ini terjadi tepat bersamaan dengan momen politik penting ketika Sebastien Lecornu yang konservatif menjabat sebagai perdana menteri baru pilihan Presiden Emmanuel Macron. Lecornu, yang merupakan loyalis Macron sejak 2017, menggantikan Francois Bayrou yang digulingkan oleh Parlemen karena rencananya yang tidak populer untuk pemotongan anggaran publik yang tajam.

Demonstran dengan keras menolak penunjukan ini, menganggapnya sebagai perpanjangan kebijakan yang sama tanpa perubahan substansial. Marie, salah seorang pengunjuk rasa, mengkritik keputusan Macron.

“Penting mengambil tindakan sekarang juga. [Macron] tidak peduli dengan rakyat Prancis. Saya pikir sulit menunjuk seseorang dari kalangan sendiri bahkan sebelum bertemu dengan pimpinan partai dan oposisi, dan melihat apa yang akan dihasilkan dari gerakan hari ini,” kata Marie, seperti dikutip France24.

“Macron Harus Mundur!” – Tuntutan Tegas dari Basis Grassroot

Seruan agar Macron mundur dari kursi kepresidenan menjadi tema sentral dalam gelombang protes ini. Fred, seorang pejabat serikat pekerja CGT di perusahaan transportasi umum Paris RATP, dengan tegas menyampaikan akar permasalahan.

“Ini masalah yang sama; masalahnya sama, Macron-lah yang bermasalah, bukan para menteri. Dia harus pergi,” kata Fred, seperti dikutip Reuters.

Pernyataan ini mencerminkan sentiment yang berkembang di kalangan demonstran bahwa pergantian menteri tidak akan menyelesaikan masalah struktural yang mereka hadapi. Mereka menuntut perubahan kepemimpinan di tingkat paling atas sebagai syarat mutlak untuk transformasi yang mereka inginkan.

Konteks Ekonomi: Tekanan Defisit dan Utang Nasional

Protes massal ini terjadi dalam konteks tekanan ekonomi yang serius. Prancis berada di bawah tekanan untuk menurunkan defisit anggaran yang hampir dua kali lipat dari pagu 3% Uni Eropa, dengan tumpukan utang nasional yang setara dengan 114% PDB.

Pemerintah sebelumnya telah melakukan pemotongan layanan sosial dan mengusulkan langkah-langkah penghematan yang dinilai membebani warga kelas menengah Prancis. Kebijakan ini menjadi pemicu utama kemarahan rakyat yang merasa diperlakukan tidak adil dalam distribusi beban ekonomi.

Analisis Sosiologis: Perbedaan Generasi dalam Protes

Sosiolog Antoine Bristielle dari lembaga riset Jean Jaures Foundation memberikan analisis mendalam tentang karakter unik gerakan ini dibandingkan dengan protes sebelumnya.

“Dalam gerakan ‘Rompi Kuning’, Prancis kita berada dalam kondisi yang rentan dan berjuang memenuhi kebutuhan hidup, banyak pekerja, banyak pensiunan. Sementara di sini, dari segi usia, banyak anak muda,” kata Bristielle.

“Mereka memiliki visi tertentu tentang dunia di mana terdapat lebih banyak keadilan sosial, lebih sedikit ketimpangan, dan sistem politik yang berfungsi secara berbeda, lebih baik,” ujarnya, menjelaskan motivasi yang mendorong generasi muda ini.

Respons Pemerintah: Mobilisasi Keamanan Masif

Menghadapi gelombang protes yang meluas, pemerintah Prancis merespons dengan mobilisasi keamanan dalam skala besar. Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau menggambarkan mobilisasi 197.000 demonstran sebagai “signifikan” meskipun dia menambahkan optimisme bahwa “mereka yang ingin memblokade negara gagal melakukannya.”

Namun, skala pengerahan 80.000 personel keamanan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadapi ancaman terhadap stabilitas nasional. Penggunaan gas air mata, selang air, dan penangkapan massal menunjukkan bahwa pemerintah tidak akan mentolerir gangguan terhadap ketertiban umum.

Akar Digital: Dari Media Sosial ke Jalanan

Gerakan “Block Everything” ini memiliki karakteristik unik sebagai protes yang lahir dari dunia digital. Demo yang mulanya menggema di media sosial Facebook kemudian menyebar dan memicu mobilisasi massal di dunia nyata.

Gerakan ini muncul secara online pada bulan Mei di kalangan kelompok sayap kanan, tetapi kemudian diadopsi oleh spektrum politik yang lebih luas, termasuk kelompok kiri dan sayap kiri ekstrem. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi katalis untuk mobilisasi politik lintas ideologi.

Perbandingan dengan Indonesia: Pola Global Protes Gen-Z

Laporan menyebutkan bahwa demonstrasi di Prancis ini mirip dengan demonstrasi di Indonesia pada Agustus lalu, menunjukkan pola global di mana generasi muda mengorganisir protes terhadap elite politik yang dianggap gagal.

Kesamaan ini mencerminkan fenomena transnasional di mana generasi Z di berbagai negara menggunakan strategi dan narasi serupa dalam mengekspresikan ketidakpuasan terhadap sistem politik yang ada. (Mond)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami