BATU BARA, GEMADIKA.com – Kemarahan warga Dusun I, Desa Empat Negeri pecah! Empat keluarga di Kecamatan Datuk Limapuluh, Kabupaten Batu Bara turun ke jalan memprotes tindakan sepihak PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) Kebun Tanah Itam Ulu (TIU) yang diam-diam menggali parit pembatas sedalam 5 meter.

Yang membuat warga semakin geram, penggalian dilakukan tengah malam menggunakan alat berat excavator tanpa pemberitahuan sebelumnya. Akibatnya, luas tanah milik warga menyusut dan tidak sesuai lagi dengan Surat Keterangan Tanah (SKT) yang mereka miliki.

Mediasi Darurat Digelar

Melihat eskalasi konflik yang terus memanas, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) akhirnya turun tangan. Pada Senin (8/9/2025) sore, tim mediasi yang dipimpin Camat Datuk Limapuluh Wahidin Kamal, bersama perwakilan Polsek, Danramil, dan utusan PTPN IV Kebun TIU langsung meninjau lokasi sengketa.

Sebelum terjun ke lapangan, seluruh pihak berkumpul terlebih dahulu di kantor Camat untuk membahas strategi penyelesaian masalah ini secara damai.

Kronologi Konflik Bermula 4 September

Masalah ini sebenarnya sudah mencuat sejak Kamis, 4 September 2025. Puluhan warga Dusun I turun ke jalan memprotes penggalian parit yang mereka nilai telah merampas hak atas tanah mereka.

Kepala Desa Empat Negeri, Kamaluddin alias Ute Kamel, segera mengundang Forkopimca, Badan Pertanahan Nasional (BPN), dan PTPN IV untuk mediasi. Namun sayangnya, BPN dan PTPN IV tidak hadir dalam pertemuan tersebut.

“Iya, warga Dusun I protes. Bahkan empat orang warga sudah menyatakan keberatan atas tindakan pihak perkebunan yang dinilai semena-mena,” tegas Ute Kamel.

Parit Raksasa Bikin Warga Cemas

Yang membuat warga semakin resah, parit yang digali memiliki dimensi yang mengkhawatirkan – sedalam 5 meter dan selebar 3 meter. Warga khawatir galian sebesar ini berpotensi menimbulkan longsor dan membahayakan keselamatan mereka.

Peninjauan lapangan mengungkap fakta mengejutkan: PTPN IV telah menggali parit tepat di batas lahan milik tiga warga. Yang lebih parah lagi, penggalian dilakukan menggunakan excavator pada malam hari tanpa memberitahu warga terlebih dahulu.

“Harusnya ada pemberitahuan atau sosialisasi sebelum melakukan penggalian,” ujar Ute dengan nada kecewa.

Pengakuan Warga yang Merasa Ditipu

Aceng (46 tahun), salah satu warga yang terdampak, mengungkapkan kekecewaannya. Sebelumnya, warga telah kooperatif memenuhi permintaan pihak kebun untuk memasang pagar guna mencegah ternak masuk dan mencegah pencurian sawit.

“Tapi setelah pintu pagar dipasang, pihak kebun malah menggali parit tanpa sosialisasi, bahkan malam hari pula,” ucap Aceng yang diamini warga lainnya.

Camat Turun Tangan

Setelah meninjau lokasi bersama Kepala Desa, Camat Datuk Lima Puluh Wahidin Kamal menyampaikan keprihatinannya atas situasi yang terjadi.

“Memang mereka (PTPN IV) punya hak menggali parit pembatas. Tapi tetap harus memperhatikan kenyamanan dan hak masyarakat. Tidak boleh semena-mena,” tegas Wahidin.

Ia berjanji akan mengadakan mediasi komprehensif antara warga dan PTPN IV dengan melibatkan Forkopimca untuk menyelesaikan konflik ini secara damai dan adil.

Empat Keluarga Kehilangan Tanah

Sedikitnya empat kepala keluarga menyatakan keberatan keras atas penggalian parit yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh PTPN IV TIU. Mereka adalah:

  • Aceng (46 tahun)
  • Sutrisno (45 tahun)
  • Aidil Fitri (42 tahun)
  • Sri Indah (31 tahun)

Yang paling memprihatinkan, lahan milik mereka disebut telah “dicaplok” sepanjang 3,4 meter akibat penggalian parit ini.

Pengukuran Ulang Digelar

Dalam upaya mencari solusi, tim mediasi Forkopimca bersama utusan PTPN IV dan para warga melakukan pengukuran ulang di lokasi sengketa. Pengukuran dimulai dari titik nol dengan pedoman patok besi yang ditarik hingga ke galian parit pembatas.

Hasilnya mengejutkan – meteran pengukur berakhir tepat di tengah galian parit, sesuai dengan yang tertera dalam SKT milik warga. Hal ini semakin menguatkan tuduhan bahwa PTPN IV telah melakukan pencaplokan lahan.

Dampak galian parit ini bukan hanya soal potensi longsor atau genangan air, tetapi juga menyusutkan luas tanah warga sehingga tidak sesuai lagi dengan ukuran yang tertera dalam SKT mereka.

Komitmen PTPN IV untuk Koordinasi

Menanggapi hasil mediasi, perwakilan PTPN IV Kebun TIU yang diwakili Asisten Afdeling 1 menyatakan akan menyampaikan semua aspirasi dan keluhan warga kepada pimpinan perusahaan.

“Dari hasil mediasi Forkopimca dan tanya jawab serta informasi dari warga yang hadir akan disampaikan kepada pimpinan sebagai laporan serta dikoordinasikan pada pihak manajemen berkompeten pada Pimpinan PTPN IV,” ujar perwakilan PTPN IV tersebut. (Jumaidi)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami