REMBANG, GEMADIKA.com – Aktivitas para petani garam di Kabupaten Rembang terus berjalan di tengah cuaca panas yang mendukung proses penggaraman. Salah satunya Kang Sulis (30), petani asal Dusun Pujulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, yang menceritakan proses budidaya garam tradisional di wilayahnya.

Menurut Kang Sulis, proses pembuatan garam dimulai dari persiapan lahan selama sekitar empat hari untuk pengeringan tambak. Setelah itu, petani memasukkan air laut yang sudah matang atau “air tua” ke petak garam dan membiarkannya mengkristal hingga siap dipanen.

“Kalau cuacanya panas terus, airnya cepat matang. Biasanya dalam seminggu sudah bisa panen,” jelasnya kepada Gemadika.com, Senin (6/10/2025).

Hasil panen garam saat ini dijual dengan harga sekitar Rp1.400 per kilogram, biasanya melalui tengkulak yang menyalurkan ke daerah Pati atau Tuban. “Kadang kami jual sendiri, tapi lebih sering diambil tengkulak karena lebih cepat laku,” tambah Kang Sulis.

Meskipun harga masih stabil, para petani berharap adanya dukungan dari pemerintah untuk penyediaan alat modern dan kemudahan akses pasar, agar usaha garam rakyat di Pujulharjo semakin berkembang dan meningkatkan kesejahteraan petani. (Joko P)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami