JAKARTA, GEMADIKA.com – Polemik posisi politik Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, kian meluas setelah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan tegas menyatakan tidak tertarik menampung mantan Menteri Komunikasi dan Informatika itu.

Penolakan PSI ini menyusul gelombang keberatan dari sejumlah kader Partai Gerindra di berbagai daerah yang menolak wacana bergabungnya Budi Arie ke partai berlambang Garuda tersebut.

Wakil Ketua Umum PSI, Ronald A. Sinaga, yang akrab disapa Bro Ron, mengatakan partainya tidak melihat urgensi untuk membuka peluang bagi Budi Arie bergabung.

“Kalau partai yang selama ini berada di orbit pemerintahan saja keberatan, tentu PSI tidak punya alasan untuk menerima. Tidak ada gunanya menampung figur yang dianggap meninggalkan Jokowi,” ujar Ronald, Minggu (16/11/2025).

Ia menambahkan dengan lebih tegas, “Partai di bawah naungan Presiden aja menolak dia, apalagi PSI. Tidak ada gunanya menampung pengkhianat Jokowi.”

Personal Branding Runtuh

Pernyataan Ronald merujuk pada kontroversi yang muncul setelah Budi Arie menyebut Projo tidak lagi berposisi sebagai organisasi yang secara otomatis identik dengan Presiden ke-7 Joko Widodo.

Menurut dia, pernyataan tersebut membuat citra politik Budi Arie kehilangan pijakan dan nilai tawar di hadapan partai politik.

Baca juga :  Jalan Lenteng Agung Masih Macet Parah Sehari Setelah Ambles, Perbaikan Saluran Air Terus Dikebut

“Disaat BA (Budi Arie) menyatakan Projo bukan Pro Jokowi, di momen itulah nilai branding personal dia hilang. Sejak ia menyatakan Projo bukan Pro Jokowi, nilai personal branding-nya runtuh,” kata Ronald.

Kehilangan dukungan dari kelompok relawan, menurut Bro Ron, menjadi konsekuensi logis dari pernyataan kontroversial Budi Arie terkait posisi Projo yang selama ini dikenal sebagai relawan pendukung Jokowi.

Kontroversi Kongres III Projo

Budi Arie sebelumnya menjadi sorotan dalam Kongres III Projo yang digelar di Jakarta awal November 2025. Presiden ke-7 Joko Widodo tidak hadir dalam acara tersebut, dan Budi Arie hanya meminta para relawan untuk mendoakan kesehatan sang Presiden.

Ketidakhadiran Jokowi dalam kongres yang seharusnya menjadi momen penting bagi organisasi relawan tersebut memunculkan berbagai tafsir mengenai relasi politik keduanya. Manuver politik Budi Arie terus menjadi sorotan setelah hubungan simbolik Projo dan Jokowi terlihat renggang sejak pertengahan tahun 2025.

Penolakan Meluas dari Kader Gerindra

Sementara itu, penolakan dari internal Partai Gerindra terhadap rencana masuknya Budi Arie berlangsung semakin meluas. Kader dari berbagai daerah menyuarakan keberatannya secara terbuka.

Baca juga :  Gerindra Tegaskan Bantuan 1.098 Sapi Kurban Presiden dari APBN Tak Langgar Aturan

Kader Gerindra dari Surakarta, Sidoarjo, Gresik, Batu, Tulungagung, Jakarta Timur, hingga Pematang Siantar ramai-ramai menyatakan penolakan terhadap rencana tersebut. Mereka menilai langkah tersebut tidak sejalan dengan budaya kaderisasi partai besutan Prabowo Subianto.

Beberapa di antara mereka secara terbuka menyampaikan sikap penolakan melalui forum internal maupun pernyataan publik. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra terkait aspirasi penolakan dari para kadernya tersebut.

Belum Ada Respons dari Budi Arie

Budi Arie Setiadi belum memberikan respons panjang mengenai gelombang penolakan baik dari Gerindra maupun PSI. Namun, manuver politiknya terus menjadi sorotan publik dan media, terutama terkait masa depan politiknya pascakontroversial pernyataan tentang Projo.

Polemik ini menambah deretan kasus figur politik yang kehilangan basis dukungan setelah dianggap meninggalkan patron atau kelompok pendukung utamanya. Ke depan, Budi Arie tampaknya harus bekerja keras membangun kembali citra politiknya jika ingin tetap relevan di peta politik nasional.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami