REMBANG, GEMADIKA.com - Di tengah kekayaan kuliner khas Kabupaten Rembang, terdapat satu jajanan tradisional yang mulai jarang dijumpai, namun memiliki cita rasa tak terlupakan. Makanan ini bernama Lenjong, sebuah sajian yang dulu mudah ditemui di pasar-pasar tradisional, namun kini perlahan mulai menghilang dari peredaran.
Meski namanya tidak tenar, Lenjong menyimpan kekayaan rasa dan sejarah yang tak kalah menarik. Lenjong sebutan untuk beragam jajanan pasar berbahan dasar singkong dan beras ketan, seperti petolo, gendar, sawut, cenil, ketan hitam, tiwul, dan klepon.
Masing-masing memiliki tekstur dan tampilan berbeda, namun sama-sama menawarkan rasa manis alami dari gula merah serta aroma harum dari kelapa parut yang digunakan sebagai isian atau taburan. “Suka banget perpaduan rasa dan teksturnya, beragam juga, tradisional banget,” ucap pembeli lenjong, Tutik kepada LensaNusantara di pasar Rembang, Jumat (12/12/2025) pagi.
Lanjutnya, saat disantap, Lenjong memberikan sensasi unik sejak gigitan pertama. Teksturnya yang kenyal dan lembut berpadu dengan rasa manis dari isian gula merah yang meleleh di mulut.
Tidak hanya itu, kelapa parut yang gurih memberikan keseimbangan rasa, membuat camilan ini tidak terasa terlalu manis. Sederhana, namun memuaskan, itulah kesan yang muncul setelah menikmati seporsi Lenjong.
”Sangat ironis, semakin berkembangnya tren kuliner modern membuat jajanan seperti Lenjong makin sulit ditemukan, ya untung masih ada di pasar Rembang,” kata pembeli lain Anton suami tutik.
Banyak anak muda bahkan belum pernah mendengar namanya. Melestarikan Lenjong bukan hanya soal menjaga resep, tetapi juga merawat bagian penting dari identitas budaya lokal.
Di balik rasa manis dan bentuknya yang sederhana, Lenjong menyimpan cerita panjang tentang kebersahajaan masyarakat Jawa dalam mengolah hasil bumi. Kini, tugas kita bersama untuk memastikan jajanan ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Tag:




