Perwakilan penghuni asrama, Heryantho Virgo, menjelaskan bahwa pengerjaan rehabilitasi yang dimulai sejak akhir tahun lalu belum selesai hingga kini, sehingga sejumlah mahasiswa terpaksa menumpang di kamar rekan lainnya selama kurang lebih dua bulan.
“Kami sudah menunggu cukup lama. Kondisi ini sangat mengganggu kenyamanan dan proses belajar kami. Kami berharap pemerintah daerah dapat segera menyelesaikan pekerjaan ini,” ujar Heryantho.
Ia menyebutkan, berdasarkan informasi yang diperoleh, sisa dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan rehabilitasi asrama berkisar Rp100 juta. Sementara itu, menurut data yang beredar, per 31 Desember 2025 terdapat saldo Kas Daerah (Kasda) sebesar Rp167 juta.
“Kami tidak memahami kenapa penyelesaian ini tertunda. Padahal dana tersedia dan kebutuhan kami sangat mendesak,” tambahnya.
Mahasiswa juga menyoroti adanya alokasi anggaran yang cukup besar untuk kegiatan studi banding pejabat daerah, sementara penyelesaian rehabilitasi asrama yang nilainya lebih kecil justru terhambat.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat lebih memprioritaskan kebutuhan pendidikan, khususnya kelayakan tempat tinggal mahasiswa yang sedang menuntut ilmu,” jelasnya.
Mahasiswa meminta agar Pemda Mamasa segera menyelesaikan pembayaran dan melanjutkan pekerjaan rehabilitasi asrama agar mereka dapat kembali menempati hunian dengan layak.
“Kami menyampaikan aspirasi ini dengan harapan ada solusi cepat dari pemerintah. Kami juga terbuka untuk berdialog mencari jalan keluar terbaik,” pungkas Heryantho.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Mamasa belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan mahasiswa tersebut. (Antyka)


