JAKARTA, GEMADIKA.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mengambil alih minyak Iran, termasuk membuka kemungkinan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak negara tersebut.

“Preferensi saya adalah mengambil minyaknya,” kata Trump kepada Financial Times, dikutip dari Bloomberg, Selasa (31/3).

Trump membandingkan rencana tersebut dengan operasi AS di Venezuela pada Januari lalu, ketika AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dan langsung merebut kendali minyaknya.

Pernyataan Trump ini langsung mendorong harga minyak mentah melonjak. Minyak acuan AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup di angka 102,88 dolar AS per barel, level tertinggi sejak Juli 2022. Sementara minyak Brent naik menjadi 112,78 dolar AS per barel, bahkan sempat melampaui 116 dolar AS dalam perdagangan sebelumnya.

Dalam wawancara yang sama, Trump juga tidak segan menyebut warganya sendiri yang mempertanyakan sikapnya sebagai orang bodoh.

“Sejujurnya hal yang paling saya inginkan adalah mengambil minyak Iran, tetapi ada orang-orang bodoh di AS yang bertanya: ‘Mengapa Anda melakukan itu?’ Mereka itu orang-orang bodoh,” kata Trump.

Trump mengakui operasi pengambilalihan Pulau Kharg membutuhkan kehadiran militer AS dalam jangka waktu tertentu, namun meremehkan kemampuan pertahanan Iran di sana.

“Mengambil Pulau Kharg juga berarti kami harus berada di sana untuk beberapa waktu,” ujarnya.

“Saya tidak berpikir mereka memiliki pertahanan apa pun. Kami bisa mengambilnya dengan sangat mudah,” tambah Trump.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, merespons dengan peringatan keras. Ia menyatakan “orang-orang kami sedang menunggu tentara Amerika masuk ke darat,” sebagaimana dikutip media semi-resmi Tasnim.

Konflik antara AS dan Israel melawan Iran kini telah memasuki minggu kelima. Situasi kian memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan serangan terhadap Israel, sekaligus mengancam menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan rute global.

Sepanjang Maret, harga minyak sudah melonjak lebih dari 50 persen sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari. Sebelum konflik, Brent diperdagangkan di sekitar 73 dolar AS per barel.

Meski situasi memanas, Trump menyebut negosiasi dengan Iran berjalan “sangat baik.” Teheran disebut telah menyetujui sebagian besar dari 15 tuntutan Washington, termasuk komitmen tidak mengembangkan senjata nuklir, menyerahkan uranium yang diperkaya tinggi, serta membuka kembali Selat Hormuz.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami