JAKARTA, GEMADIKA.com Nilai tukar rupiah ditutup menguat signifikan pada perdagangan Selasa (9/6/2026) setelah pasar merespons positif keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 129 poin atau 0,71 persen dan ditutup pada level Rp18.058 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan tersebut terjadi setelah BI mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar serta mengendalikan inflasi.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai keputusan BI menaikkan suku bunga merupakan langkah yang tepat di tengah tekanan eksternal dan volatilitas pasar keuangan global.

“Langkah BI menaikkan suku bunga merupakan langkah yang tepat untuk menstabilkan nilai tukar rupiah,” ujar Ibrahim, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kestabilan kurs rupiah, tetapi juga mengantisipasi potensi kenaikan inflasi akibat meningkatnya harga barang impor.

Ibrahim menjelaskan, pemerintah menargetkan tingkat inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada di kisaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus satu persen. Karena itu, kebijakan moneter yang diterapkan BI perlu didukung langkah fiskal pemerintah agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguatan rupiah masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya terkait kepastian pengelolaan defisit fiskal yang diharapkan tetap berada di bawah batas tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“BI sejauh ini sudah all out melakukan intervensi di pasar valas dalam dan luar negeri,” katanya.

Dari faktor eksternal, sentimen pasar juga dipengaruhi meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Israel dan Iran menghentikan aksi saling serang. Namun, kedua negara masih melontarkan peringatan akan melakukan balasan apabila terjadi serangan lanjutan.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran masih terbuka, sehingga memberikan harapan bagi stabilitas pasar global.

Meski begitu, investor tetap mencermati potensi suku bunga tinggi di Amerika Serikat akibat tekanan inflasi. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan memperkuat posisi dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia.

Pelaku pasar kini menunggu rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat untuk Mei 2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu. Inflasi tahunan AS diperkirakan mencapai 4,2 persen, meningkat dibandingkan 3,8 persen pada April lalu.

Dengan berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi kebijakan domestik dan dinamika ekonomi global yang terus berkembang.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami