SEMARANG, GEMADIKA.com – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kota Semarang kembali diwarnai fenomena sekolah favorit. Sejumlah sekolah negeri mengalami lonjakan pendaftar yang jauh melampaui kapasitas, sementara sekolah lainnya masih kesulitan memenuhi kuota peserta didik baru.
Salah satu sekolah yang menjadi sorotan adalah SD Negeri Kalibanteng Kidul 01. Pada hari terakhir pendaftaran, sekolah tersebut mencatat jumlah pendaftar yang melebihi daya tampung yang tersedia.
Sekolah itu hanya menyediakan 84 kursi bagi siswa baru. Namun hingga penutupan pendaftaran, tercatat sebanyak 106 calon peserta didik masuk dalam sistem, sehingga puluhan siswa berpotensi tidak diterima di sekolah pilihan mereka.
Tingginya minat masyarakat terhadap sekolah tertentu menunjukkan bahwa persepsi mengenai sekolah favorit masih sangat kuat. Faktor kualitas pendidikan, prestasi sekolah, lokasi strategis, hingga rekomendasi dari lingkungan sekitar menjadi alasan utama orang tua memilih sekolah yang sama setiap tahun.
Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim, mengatakan fenomena sekolah yang kelebihan pendaftar sementara sekolah lain kekurangan murid masih menjadi tantangan dalam pemerataan pendidikan.
“Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, ada sekolah yang kekurangan murid sementara sekolah tertentu selalu kelebihan peminat. Di SD Negeri Kalibanteng Kidul 01 ini pendaftarnya mencapai 106 anak, sedangkan daya tampungnya hanya 84 siswa. Ini menjadi PR bagi kita semua,” ujarnya.
Menurut Mualim, proses seleksi harus dilakukan secara transparan agar masyarakat memahami mekanisme penerimaan yang berlaku. Penjelasan yang jelas kepada orang tua dinilai penting untuk menghindari kesalahpahaman setelah hasil seleksi diumumkan.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Kalibanteng Kidul 01, Rumiyati, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut hampir terjadi setiap tahun. Bahkan pada penerimaan peserta didik tahun sebelumnya, jumlah pendaftar pilihan pertama hampir mencapai 200 siswa.
Menurutnya, mayoritas pendaftar berasal dari jalur domisili karena sekolah tersebut menjadi pilihan utama masyarakat di wilayah sekitar.
Di sisi lain, fenomena sekolah favorit berbanding terbalik dengan kondisi sejumlah sekolah negeri lain yang masih kekurangan peserta didik baru. Padahal, Kota Semarang memiliki sekitar 325 SD Negeri yang tersebar di berbagai kecamatan.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan pendaftaran dan memberikan kesempatan kepada orang tua untuk mengubah pilihan sekolah selama sistem masih dibuka.
Ia juga menegaskan bahwa kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah yang minim peminat belum menjadi pilihan dalam waktu dekat.
“Terkait kemungkinan regrouping sekolah yang minim peminat, kami akan kaji terlebih dahulu. Tidak serta-merta dilakukan regrouping karena kami juga mempertimbangkan faktor kedekatan layanan pendidikan dengan masyarakat,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi tantangan besar di Kota Semarang. Pemerintah daerah diharapkan terus meningkatkan mutu pendidikan secara merata agar seluruh sekolah memiliki daya tarik yang sama di mata masyarakat.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan