JAKARTA, GEMADIKA.com – Singapura kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Setelah sukses menekan konsumsi gula, pemerintah setempat kini mulai membidik konsumsi natrium atau garam yang dinilai berlebihan.
Melalui Health Promotion Board (HPB), pemerintah Singapura tengah menyiapkan kampanye besar yang akan diluncurkan pada kuartal keempat 2026. Kampanye ini bertujuan mengubah kebiasaan masyarakat agar terbiasa mengurangi penggunaan garam dan saus saat memesan makanan.
“Kita perlu menormalisasi permintaan ini. Ketika semakin banyak orang yang meminta, mungkin di masa depan kita bisa menerapkan rendah natrium sebagai standar baku (default),” ungkap Kepala Eksekutif HPB, Tay Choon Hong.
Replikasi Sukses Kampanye ‘Kurang Manis’
Langkah ini bukan tanpa dasar. Sebelumnya, Singapura telah sukses menerapkan kampanye “siu dai” atau kurang gula sejak 2023 melalui sistem pelabelan Nutri-Grade.
Hasilnya signifikan. Penjualan minuman sehat dengan label Grade A dan B melonjak dari 37 persen pada 2017 menjadi 73 persen pada 2024. Keberhasilan ini bahkan membuat Singapura meraih penghargaan Healthy City Recognition 2024 dari World Health Organization (WHO).
Kini, strategi serupa akan diterapkan untuk produk tinggi natrium. Mulai pertengahan 2027, label Nutri-Grade akan dicantumkan pada berbagai produk seperti garam, saus, bumbu, mi instan, hingga minyak goreng.
Ancaman Serius dari Konsumsi Garam Berlebih
Langkah ini didorong oleh kondisi kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan. Data tahun 2025 menunjukkan lebih dari sepertiga penduduk Singapura mengalami Hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Kondisi tersebut berisiko memicu berbagai penyakit serius seperti serangan jantung, stroke, hingga gagal ginjal.
Selain itu, Survei Gizi Nasional 2022 mencatat bahwa 9 dari 10 warga Singapura mengonsumsi sekitar 3.620 mg natrium per hari—jauh di atas batas aman 2.000 mg per hari.
Melalui kebijakan ini, pemerintah menargetkan penurunan konsumsi garam hingga 15 persen secara nasional.
Tantangan Industri dan Solusi Pemerintah
Meski ambisius, kebijakan ini menghadapi tantangan dari industri makanan. Pengurangan natrium dinilai lebih kompleks dibandingkan gula karena garam memiliki peran penting dalam proses produksi, termasuk fermentasi.
Sebagai contoh, produsen kecap mengkhawatirkan penurunan kualitas rasa jika kadar garam dikurangi secara drastis. Menanggapi hal ini, HPB menyesuaikan ambang batas natrium khusus untuk produk tertentu agar tetap menjaga keseimbangan rasa.
Untuk mendukung perubahan ini, pemerintah juga menggandeng supermarket menyediakan rak khusus “pilihan lebih sehat” sejak awal 2026.
Meski harga garam rendah natrium lebih mahal, yakni sekitar S$5 per kilogram dibandingkan garam biasa S$2, pemerintah menilai selisih tersebut sebanding dengan manfaat kesehatan jangka panjang.
“Rata-rata rumah tangga hanya mengonsumsi 1 kg garam dalam setahun penuh. Dalam konteks ini, membayar S$3 lebih mahal demi jaminan kesehatan jantung selama setahun penuh bukanlah hal yang buruk,” tegas Tay.
Dilansir dari Detikhelt.



Tinggalkan Balasan Batalkan balasan