JAKARTA,GEMADIKA.com – Rasa lelah atau lemas umumnya dapat hilang setelah tubuh beristirahat. Namun, jika kelelahan terjadi secara terus-menerus atau dikenal dengan istilah fatigue, kondisi ini patut diwaspadai karena bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan, salah satunya diabetes.
Diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2, kerap memicu gejala kelelahan yang tidak kunjung hilang meski seseorang sudah cukup beristirahat. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak mampu mengolah glukosa secara optimal menjadi energi.
Gejala Diabetes yang Berkaitan dengan Kelelahan
Beberapa gejala diabetes yang dapat berkontribusi terhadap rasa lelah antara lain:
- Rasa haus berlebihan (polidipsia) akibat tingginya kadar gula darah dan sering buang air kecil.
- Rasa lapar berlebihan (polifagia) meski sudah makan, karena tubuh kekurangan energi.
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas akibat pembakaran lemak dan otot sebagai sumber energi.
- Penglihatan kabur karena perubahan cairan pada lensa mata akibat gula darah tinggi.
Meski tidak semua gejala tersebut secara langsung menyebabkan kelelahan, dampaknya terhadap tubuh dapat menimbulkan rasa tidak nyaman berkepanjangan yang memicu kelelahan fisik maupun mental.
Mengapa Diabetes Menyebabkan Kelelahan?
Kelelahan pada penderita diabetes umumnya dipicu oleh beberapa faktor utama, di antaranya:
1. Perubahan Kadar Gula Darah
Tubuh memecah makanan menjadi glukosa yang kemudian digunakan sebagai sumber energi. Namun, pada penderita diabetes, insulin tidak bekerja optimal sehingga glukosa tidak dapat diserap dengan baik oleh sel tubuh. Akibatnya, energi tidak terbentuk secara maksimal dan tubuh menjadi lemas.
2. Faktor Kesehatan Mental
Diabetes juga dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Perubahan pola makan, penurunan energi, hingga gangguan motivasi dapat berkontribusi terhadap kelelahan yang berkepanjangan.
Pentingnya Pemeriksaan Gula Darah
Untuk memastikan kondisi kesehatan, pemeriksaan gula darah secara rutin sangat dianjurkan. Diagnosis diabetes tidak cukup hanya dengan satu jenis pemeriksaan, melainkan perlu dilakukan secara menyeluruh.
“Kalau masalah gula harus cek lab, tentu saja. Tidak hanya gula sewaktu, jadi harus diagnosis untuk diabetes mellitus itu paling tidak ada gula darah puasa, atau namanya HbA1c. Itu adalah rata-rata kadar gula darah 2-3 bulan terakhir, sehingga kita jadi tahu, ‘Oh saya ini aman nggak sih?’ Atau saya masuk ke prediabetes, atau saya sudah diabetes,” kata dokter spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD.
Dengan mengetahui kondisi gula darah sejak dini, masyarakat dapat segera melakukan perubahan gaya hidup, seperti mengatur pola makan sehat dan mengurangi konsumsi makanan tinggi gula.
Upaya Pencegahan
Selain pemeriksaan rutin, menjaga pola hidup sehat menjadi langkah penting untuk mencegah diabetes, seperti:
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
- Rutin berolahraga
- Mengontrol berat badan
- Menghindari konsumsi gula berlebih
Kesadaran sejak dini menjadi kunci utama agar risiko komplikasi akibat diabetes dapat diminimalkan.
Dilansir dari Detihelt.



Tinggalkan Balasan Batalkan balasan