SOLO, GEMADIKA.com – Di tengah menjamurnya gerai boba, kopi susu, hingga minuman matcha di berbagai sudut Kota Solo, semangkuk Es Dawet Telasih tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat maupun wisatawan.

Di warung-warung sederhana, antrean pembeli masih terlihat setiap hari. Banyak wisatawan sengaja mampir untuk menikmati perpaduan cendol, santan, gula merah, tape, ketan hitam, bubur sumsum, biji selasih, dan potongan nangka yang disajikan dingin.

Bagi masyarakat Solo, Es Dawet Telasih bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan bagian dari identitas kuliner yang telah diwariskan lintas generasi.

Berakar Sejak Abad ke-9

Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS), Tundjung Wahadi Sutirto, menjelaskan bahwa dawet merupakan salah satu kuliner Nusantara yang memiliki sejarah sangat panjang. Keberadaannya bahkan dapat ditelusuri hingga abad ke-9 Masehi.

Menurutnya, salah satu catatan tertua mengenai dawet terdapat dalam Prasasti Taji di wilayah Jabung, Ponorogo, yang menyebutkan adanya minuman yang diyakini sebagai bentuk awal dawet.

“Di abad ke-9 itu bisa dirujuk dari daerah Ponorogo melalui Prasasti Taji yang menyebut satu minuman yang kemudian disebut sebagai dawet,” ujarnya.

Jejak dawet juga ditemukan dalam Kakawin Kresnayana yang ditulis sekitar tahun 1104 Masehi serta dalam ensiklopedia budaya Jawa Serat Centhini. Hal tersebut menunjukkan bahwa minuman ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa selama ratusan tahun.

Menurut Tundjung, karena telah berkembang begitu lama sebagai bagian dari budaya masyarakat, hampir mustahil mengetahui siapa pencipta pertama dawet.

Baca juga :  Skandal TPP Rembang: Pengembalian Dana Mandek di Rp56 Juta, Kerugian Negara Rp2 Miliar Belum Pulih

“Sebagai karya budaya yang sudah menjadi milik publik, siapa pertama kali membuatnya sudah sulit diketahui. Yang bisa kita telusuri hanyalah jejak sejarahnya,” katanya.

Dawet Telasih Jadi Ciri Khas Solo

Seiring perjalanan waktu, dawet berkembang menjadi berbagai varian di berbagai daerah. Salah satu yang paling terkenal adalah Es Dawet Telasih khas Solo.

Tundjung menjelaskan bahwa Dawet Telasih bukan jenis minuman yang berbeda, melainkan pengembangan dari dawet tradisional dengan isian yang lebih beragam.

Selain cendol, santan, dan gula merah, Es Dawet Telasih disajikan bersama tape, bubur sumsum, ketan hitam, nangka, serta biji selasih yang menjadi ciri khas utamanya.

“Kalau kita merujuk pada Serat Centhini, Dawet Telasih sebenarnya hanya varian saja. Yang membedakan adalah isiannya lebih banyak, terutama adanya biji kemangi atau telasih yang kemudian menjadi ciri khas Solo,” jelasnya.

Keunikan tersebut membuat Es Dawet Telasih berkembang menjadi salah satu ikon wisata kuliner Kota Solo yang selalu diburu wisatawan.

Sarat Makna dalam Tradisi Jawa

Tidak hanya dikenal sebagai kuliner, dawet juga memiliki makna filosofis dalam tradisi masyarakat Jawa.

Menurut Tundjung, dawet telah lama hadir dalam berbagai prosesi adat, terutama menjelang pernikahan. Dalam tradisi siraman, keluarga biasanya menggelar prosesi menjual dawet sebagai simbol harapan agar berbagai persoalan yang dihadapi calon pengantin dapat terurai.

“Istilah dawet dimaknai sebagai ngudari barang semrawut, mengurai hal-hal yang kusut. Harapannya, setelah meminum dawet, pikiran menjadi segar dan persoalan yang rumit ikut terurai,” ujarnya.

Baca juga :  Puri Berlian Championship Kian Bergengsi, 444 Atlet dari Enam Kabupaten Berlaga di Rembang

Sementara itu, kata telasih dimaknai sebagai simbol kasih sayang yang tulus dan berkelanjutan antara pasangan pengantin.

“Supaya saling mengasihi antara calon pengantin. Telasih dimaknai sebagai kasih sayang yang total dan tidak habis,” tambahnya.

Tetap Digemari di Era Modern

Popularitas Es Dawet Telasih hingga kini juga terlihat dari pengalaman para pelaku usaha kuliner.

Salah satunya adalah Indah Wijiastuti atau Iin, pemilik Dawet Telasih Khas Solo yang mulai berjualan sejak 2014.

Menurutnya, resep yang digunakan tetap dipertahankan agar cita rasa asli tidak berubah.

“Masih sama dari dulu,” ujarnya.

Pada akhir pekan maupun musim liburan, warung miliknya mampu menjual lebih dari 200 porsi dalam sehari. Pembeli datang dari berbagai daerah seperti Palembang, Medan, Semarang, hingga Salatiga.

“Ada yang dari Palembang, Medan, Semarang, Salatiga. Mereka memang sengaja datang untuk minum dawet,” katanya.

Kini, selain melayani pembeli harian, usahanya juga menerima pesanan untuk berbagai acara seperti pernikahan, reuni, hingga kegiatan di luar kota.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa Es Dawet Telasih tidak hanya mampu bertahan di tengah maraknya tren minuman modern, tetapi juga terus menjadi salah satu identitas kuliner Kota Solo yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dilansir dari Kompascom.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami