JAKARTA, GEMADIKA.com – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Nusantara turun ke jalan dan menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya, Jakarta Pusat, Senin (15/9).
Dalam aksinya, massa mahasiswa menyuarakan sejumlah tuntutan, mulai dari penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset hingga desakan reformasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Aksi dimulai sejak pukul 10.00 WIB dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Massa membentangkan spanduk, membawa poster, dan berorasi secara bergantian. Meski penuh dengan sorakan dan yel-yel khas mahasiswa, suasana aksi berjalan tertib dan damai.
Perwakilan Kemensetneg Temui Massa
Sekitar pukul 13.00 WIB, seorang perwakilan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) turun langsung menemui perwakilan mahasiswa. Dalam dialog singkat namun intens itu, aspirasi mahasiswa dijanjikan akan diteruskan ke pihak terkait.
“Kami menerima aspirasi ini dan akan menyampaikannya kepada pimpinan serta kementerian/lembaga terkait. Terima kasih telah menyuarakan pendapat secara damai dan tertib,” ujar perwakilan tersebut di hadapan massa aksi.
Tuntutan Mahasiswa
Dalam pernyataan sikapnya, BEM Nusantara menyampaikan sejumlah tuntutan utama, di antaranya:
- Menolak RUU Perampasan Aset yang dinilai tidak adil dan berpotensi melanggar hak asasi warga negara.
- Mendesak reformasi Polri, mencakup evaluasi penanganan demonstrasi, transparansi penegakan hukum, serta peningkatan profesionalisme aparat.
- Menolak politisasi hukum, menegaskan agar lembaga penegak hukum tetap independen dan tidak menjadi alat kekuasaan.
Koordinator lapangan aksi, Ardiansyah Putra, menegaskan bahwa gerakan mahasiswa adalah bentuk kepedulian terhadap demokrasi dan hukum di Indonesia.
“Kami ingin memastikan negara ini tidak berjalan tanpa kritik. Ketika hukum menjadi alat kekuasaan, maka mahasiswa harus bersuara,” tegasnya.




