JAKARTA, GEMADIKA.com – Mata uang rupiah mengawali bulan Desember 2025 dengan catatan positif. Pada pembukaan perdagangan Senin (1/12), rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat, menunjukkan tren penguatan yang konsisten di tengah pelemahan mata uang negeri Paman Sam.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah dibuka di posisi Rp16.661 per dolar AS, naik 14 poin atau menguat 0,08 persen. Penguatan ini semakin terlihat jelas ketika perdagangan berlangsung, di mana mata uang Garuda bergerak ke level Rp16.655 per dolar AS, atau menguat 20 poin (0,12 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.675 per dolar AS.
Sementara itu, data Refinitiv mencatat rupiah terapresiasi 0,03 persen ke level Rp16.640 per dolar AS pada awal sesi perdagangan. Angka ini menunjukkan pemulihan setelah pada penutupan perdagangan Jumat (28/11/2025), rupiah sempat melemah 0,12 persen ke posisi Rp16.665 per dolar AS.
Mata Uang Asia dan Global Bergerak Variatif
Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan beragam mata uang Asia lainnya. Peso Filipina mencatat kenaikan 0,02 persen, yen Jepang menguat 0,25 persen, dan won Korea Selatan naik tipis 0,01 persen. Namun, baht Thailand tercatat stagnan tanpa pergerakan berarti.
Di kawasan negara maju, mata uang utama juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Euro Eropa menguat 0,08 persen, franc Swiss naik 0,12 persen, dan dolar Kanada plus 0,01 persen. Sementara itu, dolar Australia justru melemah 0,14 persen.
Tekanan pada Dolar AS Berlanjut
Penguatan rupiah turut didorong oleh melemahnya indeks dolar AS (DXY). Hingga pukul 09.00 WIB, DXY tercatat turun 0,07 persen ke level 99,390. Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang telah membayangi pergerakan greenback sejak akhir pekan lalu, memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk menguat.
Para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter bank sentral dunia yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam beberapa hari ke depan.




