TEHERAN, GEMADIKA.com –
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan ultimatum tegas kepada Washington agar menerima proposal 14 poin yang diajukan Teheran, atau menghadapi konsekuensi kegagalan dalam upaya penyelesaian konflik.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, menolak proposal balasan Iran yang ia sebut sebagai sesuatu yang “bodoh” dan “sampah”. Trump juga mengungkapkan bahwa gencatan senjata antara kedua negara saat ini berada dalam kondisi kritis.
Ultimatum Tegas dari Teheran
Ghalibaf menegaskan bahwa tidak ada opsi lain bagi Amerika Serikat selain menerima tuntutan Iran jika ingin mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
“Tidak ada alternatif lainnya, selain menerima hak-hak rakyat Iran, sebagaimana diuraikan dalam proposal 14 poin. Pendekatan lainnya akan sepenuhnya tidak membuahkan hasil; hanya kegagalan demi kegagalan,” tegas Ghalibaf dalam pernyataan via media sosial X.
Ia juga memperingatkan bahwa konflik yang terus berlarut akan membawa beban besar, khususnya bagi masyarakat Amerika.
“Semakin lama itu berlarut-larut, semakin banyak pembayar pajak Amerika yang akan menanggungnya,” cetus Ghalibaf.
Konflik Memanas dan Negosiasi Buntu
Upaya perundingan damai antara kedua negara dilaporkan masih menemui jalan buntu setelah putaran awal negosiasi gagal menghasilkan terobosan berarti. Iran menegaskan tidak akan mundur, bahkan menyatakan kesiapan untuk merespons setiap potensi serangan baru dari pihak AS.
Situasi semakin kompleks setelah langkah Iran membatasi lalu lintas maritim di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas global. Kebijakan ini berdampak langsung pada pasar energi dunia.
Sebagai respons, Amerika Serikat dilaporkan menerapkan blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran, yang semakin meningkatkan eskalasi konflik.
Isi Proposal dan Tuntutan Iran
Meski rincian lengkap proposal dari pihak AS belum sepenuhnya dipublikasikan, sejumlah laporan menyebutkan bahwa dokumen tersebut berupa nota kesepahaman singkat yang bertujuan menghentikan konflik sekaligus membuka jalan negosiasi lanjutan, termasuk terkait program nuklir Iran.
Sementara itu, proposal balasan dari Iran mencakup beberapa tuntutan utama, di antaranya penghentian perang di berbagai wilayah, termasuk Lebanon, penghentian blokade laut oleh AS, serta pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional.
Namun, pihak Iran belum merinci secara jelas apa yang akan diberikan sebagai imbalan dalam kesepakatan tersebut.
Dampak Global
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan ekonomi global, terutama sektor energi.
Dengan posisi kedua negara yang sama-sama keras, masa depan perundingan damai masih belum menemui titik terang.




