MERAUKE, GEMADIKA.com – Wilayah Papua Selatan kini menjadi sorotan dunia internasional setelah proyek pembukaan lahan skala masif melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate dan perkebunan industri disebut memicu pembabatan hutan terbesar di Papua dalam beberapa tahun terakhir.

Proyek yang berpusat di Kabupaten Merauke dan meluas hingga wilayah Boven Digoel serta Mappi itu menargetkan lebih dari 2,5 juta hektare lahan, sebagian besar merupakan kawasan hutan alam dan tanah adat milik masyarakat asli Papua.

Program yang awalnya digagas pemerintah sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional tersebut kini menuai perhatian luas dari berbagai pihak, mulai dari aktivis lingkungan, akademisi, lembaga hak asasi manusia, hingga organisasi internasional pemerhati perubahan iklim.

Selain untuk cetak sawah, kawasan tersebut juga direncanakan menjadi lokasi pengembangan perkebunan tebu skala besar guna mendukung industri bioetanol nasional. Tidak hanya itu, sebagian wilayah juga disebut mulai diarahkan untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kawasan industri pendukung lainnya.

Baca juga :  Innalillahi! 8 Pendulang Emas di Yahukimo Dibantai KKB — TNI Kerahkan Helikopter untuk Evakuasi Jenazah

Akibat pembukaan lahan secara besar-besaran, ribuan hektare hutan primer Papua dilaporkan mulai mengalami perubahan fungsi menjadi area pertanian dan perkebunan. Kondisi itu memicu kekhawatiran serius terhadap kerusakan ekosistem, hilangnya habitat satwa endemik Papua, hingga meningkatnya emisi karbon yang berpotensi memperparah krisis iklim global.

Sejumlah kelompok masyarakat adat, khususnya Suku Marind dan Awyu, juga mulai menyuarakan penolakan terhadap proyek tersebut. Mereka mengaku khawatir kehilangan ruang hidup, wilayah berburu, sumber pangan tradisional, serta identitas budaya yang selama ini melekat dengan hutan adat.

Konflik lahan antara perusahaan dan masyarakat lokal pun disebut mulai bermunculan di beberapa titik wilayah proyek. Warga menilai proses pembebasan lahan dan perizinan belum sepenuhnya melibatkan persetujuan masyarakat adat secara menyeluruh.

Baca juga :  Viral! Pengakuan “Mama Papua” Ngaku Dijebak Saat Syuting Film Dokumenter Pesta Babi

Aktivis lingkungan menilai Papua merupakan salah satu benteng terakhir hutan tropis dunia yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim global. Karena itu, pembukaan lahan dalam skala besar dinilai harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat adat.

Sementara itu, pemerintah menyatakan proyek Food Estate dan pengembangan perkebunan di Papua bertujuan meningkatkan produksi pangan nasional, membuka lapangan kerja, serta mempercepat pembangunan ekonomi kawasan timur Indonesia.

Meski demikian, polemik terkait proyek tersebut hingga kini masih terus bergulir. Banyak pihak mendesak agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dampak lingkungan, sosial, dan budaya sebelum ekspansi proyek diperluas lebih jauh di Papua Selatan.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami