SEMARANG, GEMADIKA.com – Sebuah peristiwa memilukan mengguncang ketenangan warga di kawasan Pekunden, Semarang Tengah. Seorang pria yang berprofesi sebagai guru ditemukan telah meninggal dunia di dalam kamar kosnya, Jumat sore. Ia adalah IP (44), warga Desa Wujil, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, yang selama ini hidup seorang diri di perantauan tanpa satu pun anggota keluarga yang menemani.
Kepergiannya tidak langsung disadari siapa pun. Kesendirian yang selama ini ia jalani, justru menjadi alasan mengapa tidak ada yang segera mengetahui bahwa ia telah tiada.
Bermula dari Rasa Curiga Tetangga Kos
Peristiwa terungkap setelah seorang penghuni kos yang enggan disebutkan namanya pulang dari bekerja dan merasa ada yang tidak beres. Korban sama sekali tidak terlihat keluar kamar sejak pagi, sesuatu yang tidak biasa dan langsung membangkitkan kecurigaan.
Dengan berbekal senter, saksi mencoba mengintip ke dalam kamar yang gelap gulita.
“Kondisi di dalam kamar korban sangat gelap gulita saat itu. Saya coba melihat dengan senter,” katanya.
Cahaya senter itulah yang kemudian mengungkap kenyataan pahit. Di atas kasur, IP ditemukan sudah terbujur kaku dan tidak bernyawa. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan, tubuhnya mulai mengalami pembusukan dan mengeluarkan bau menyengat, pertanda ia telah meninggal cukup lama sebelum ditemukan.
Polisi Gelar Olah TKP, Tidak Ada Tanda Kekerasan
Penemuan jenazah langsung dilaporkan ke Polsek Semarang Tengah. Petugas bersama Tim Inafis Polrestabes Semarang segera turun ke lokasi untuk menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) guna menyelidiki penyebab kematian.
Kapolsek Semarang Tengah Kompol Sugito membenarkan penemuan tersebut dan menyatakan penyelidikan masih terus berjalan.
“Kami masih mengintensifkan penyelidikan. Ketika ditemukan dalam kondisi terbujur,” kata Kompol Sugito, Sabtu (30/5/2026).
Pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Korban ditemukan dalam posisi tengkurap dengan kondisi kulit yang sudah mulai membiru kehitaman akibat proses pembusukan.
“Terkait riwayat penyakit korban masih dalam penyelidikan Tim Inafis dan dokter RSUP Dr. Kariadi,“ tambah Kompol Sugito.
Diduga Akibat Maag Akut, Keluarga Tolak Autopsi
Dari keterangan pihak keluarga, IP diketahui memiliki riwayat penyakit asam lambung atau maag akut yang sudah lama dideritanya. Penyakit itulah yang diduga kuat menjadi penyebab kematiannya, merenggut nyawanya saat ia sedang sendirian, tanpa siapa pun yang bisa memberikan pertolongan.
“Korban meninggal dunia diperkirakan sejak satu atau dua hari sebelum ditemukan, sehingga sudah mulai terjadi pembusukan,” jelas Sugito.
Pihak keluarga memilih untuk tidak melakukan autopsi terhadap jenazah. Setelah proses pemeriksaan selesai, jenazah IP diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan dengan layak di tanah kelahirannya.
Pengingat Pahit tentang Bahaya Hidup Sendiri Tanpa Jaring Pengaman
Kepergian IP meninggalkan kesedihan mendalam, sekaligus menjadi pengingat betapa pentingnya kepedulian antartetangga dan lingkungan sekitar, terutama bagi mereka yang hidup merantau seorang diri jauh dari keluarga. Satu sapaan kecil, satu kunjungan singkat, bisa saja menjadi perbedaan antara nyawa yang terselamatkan dan yang tidak sempat mendapat pertolongan.




