BOYOLALI, GEMADIKA.com — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memacu pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah pada tahun 2027.

Sebagai langkah strategis, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong penguatan branding destinasi wisata ramah muslim di berbagai wilayah, termasuk kawasan Solo Raya yang dinilai memiliki potensi besar untuk pasar wisata domestik maupun internasional.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 Wilayah Solo Raya yang digelar di Pendopo Kabupaten Boyolali, Selasa (2/6/2026).

Wisata Ramah Muslim Tak Hanya Soal Kuliner Halal

Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pengembangan wisata ramah muslim tidak hanya terbatas pada makanan halal atau situs religi seperti makam tokoh agama, tetapi juga mencakup penguatan destinasi berbasis sejarah dan budaya Islam.

“Wisata ramah muslim bisa dikembangkan lebih luas, tidak hanya situs sejarah terkait dengan makam. Ada keraton yang terkait dengan petilasan muslim. Kemudian di situ juga ada kasunanan. Tolong nanti di-branding,” kata Luthfi.

Ia juga menekankan pentingnya menyiapkan ekosistem wisata yang lengkap, mulai dari fasilitas ibadah, paket perjalanan wisata, hingga layanan pendukung lainnya.

Baca juga :  Pawon Tempuran Jogja Viral! Sensasi Rahang Tuna Bakar yang Bikin Wisatawan Rela Antre

“Wisata ramah muslim itu bukan berarti masakannya saja yang halal. Di sana harus disiapkan tempat ibadah bagaimana, paket wisata bagaimana, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Bidik Wisatawan Mancanegara

Menurutnya, konsep wisata ramah muslim di Jawa Tengah tidak hanya menyasar wisatawan dalam negeri, tetapi juga pasar internasional seperti negara-negara rumpun Melayu hingga kawasan Timur Tengah yang dinilai memiliki potensi besar.

Dukungan Kepala Daerah di Solo Raya

Sejumlah kepala daerah di wilayah Solo Raya menyatakan dukungan terhadap pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi syariah tersebut.

Bupati Boyolali Agus Irawan menegaskan komitmen daerahnya melalui penguatan desa wisata, UMKM, ekonomi kreatif, industri halal, dan destinasi berkelanjutan.

Boyolali siap menjadi bagian aktif dalam pengembangan kawasan ini melalui sinergi lintas wilayah dan juga lintas sektor,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyebut daerahnya mulai dilirik wisatawan mancanegara dan telah menyiapkan kalender wisata sepanjang tahun, termasuk pengembangan sport tourism dan geopark baru.

“Sekarang kami sudah mulai dilirik oleh turis-turis dari mancanegara. Kekuatan kami ada di desa,” katanya.

Baca juga :  Jateng Siaga Kemarau 2026, Pemprov Percepat Pemetaan Kekeringan untuk Jaga Lumbung Pangan Nasional

Target Kunjungan dan Ekonomi Syariah

Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menargetkan 438 ribu kunjungan wisatawan. Selain itu, daerahnya juga mengembangkan 30 kampung wisata baru serta memperluas ekonomi syariah melalui sertifikasi halal.

“Dalam upaya mendorong pengembangan ekonomi syariah, kami juga akan menetapkan pariwisata ramah muslim serta menerbitkan 8.933 produk bersertifikat halal, juru sembelih halal, dan pembiayaan syariah sebanyak Rp144 miliar,” katanya.

Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto juga mengajak seluruh daerah di Solo Raya untuk menyusun Rencana Induk Pariwisata agar pengembangan lebih terintegrasi.

“Kami sangat siap dan kami ingin mengajak seluruh kepala daerah untuk berkomitmen bersama membentuk rencana induk pariwisata Solo Raya,” tuturnya.

Penguatan Desa Wisata dan Regulasi

Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo menyebut daerahnya telah memiliki 22 SK desa wisata serta lebih dari 400 sanggar seni yang tersebar di 12 kecamatan.

“Kami juga sudah punya Perda Pengembangan Pariwisata, hotel bintang lima, dan bintang tiga,” jelasnya.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami