JAKARTA, GEMADIKA.com – Tantrum merupakan ledakan emosi yang umum terjadi pada anak ketika mereka merasa frustrasi, sedih, kewalahan, atau kesulitan mengungkapkan perasaannya. Kondisi ini dapat muncul di rumah, sekolah, pusat perbelanjaan, maupun tempat umum lainnya sehingga sering membuat orang tua bingung menentukan respons yang tepat.

Banyak orang tua secara spontan meminta anak untuk “diam” atau “tenang”. Namun, psikolog menilai cara tersebut belum tentu efektif karena anak yang sedang berada di puncak emosinya cenderung sulit memproses instruksi.

Gunakan Kalimat “Saat Ini”

Mengutip Parade, psikolog klinis Rebecca Weksner dan Adina Chesir menyarankan orang tua menggunakan frasa seperti “saat ini” atau “sekarang” ketika berbicara kepada anak yang sedang tantrum.

Menurut Rebecca, kalimat tersebut membantu anak memahami bahwa emosi yang sedang dirasakan bersifat sementara dan akan berlalu.

“Saat ini memberikan sudut pandang yang membantu anak mengingat bahwa perasaan bukanlah fakta dan tidak akan bertahan selamanya. Emosi datang dan pergi, naik dan turun,” jelas Rebecca.

Baca juga :  90 Unit Apartemen Mewah Benny Tjokrosaputro Senilai Rp219 Miliar Akan Dilelang Kejaksaan

Orang tua dapat mengatakan, misalnya:

“Mama tahu kamu sedang sangat kesal saat ini.”
“Memang rasanya berat ya, sekarang.”

Kalimat sederhana tersebut dapat membantu anak merasa dipahami sekaligus mengurangi intensitas emosinya.

Nada Bicara Juga Berpengaruh

Selain memilih kata yang tepat, Rebecca menekankan pentingnya menjaga nada suara tetap tenang.

Ia menyarankan orang tua berbicara dengan suara lebih pelan dan lebih lambat dari biasanya, serta menurunkan posisi tubuh hingga sejajar dengan mata anak.

Menurutnya, cara ini memberi contoh kepada otak anak mengenai bagaimana seseorang mengendalikan emosi tanpa harus mengatakannya secara langsung.

Berikan Arahan Sederhana

Daripada hanya meminta anak untuk tenang, orang tua disarankan memberikan tugas sederhana yang mudah dilakukan.

Misalnya mengajak anak:

Minum tiga teguk air.
Mengambil mainan tertentu.
Memeluk orang tua.
Duduk bersama selama beberapa saat.

Aktivitas sederhana tersebut membantu mengalihkan fokus otak dari ledakan emosi menuju proses berpikir yang lebih rasional.

Validasi Perasaan Anak

Psikolog Adina Chesir menilai kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah terburu-buru memberikan nasihat atau solusi ketika emosi anak masih memuncak.

Baca juga :  Bayar Pajak Kendaraan Kini Bisa di PRJ 2026, Warga Jakarta Nikmati Bebas Denda hingga 31 Agustus

Sebaliknya, ia menyarankan agar orang tua terlebih dahulu memvalidasi perasaan anak.

Contohnya dengan mengatakan:

“Mama bisa melihat kalau ini benar-benar berat buat kamu.”

Menurut Adina, ketika anak merasa didengar, dipahami, dan diterima, mereka tidak lagi merasa perlu meluapkan emosinya secara berlebihan agar mendapatkan perhatian.

Setelah kondisi anak mulai tenang, barulah orang tua dapat mengajak berdiskusi dan mencari solusi bersama.

Tidak Ada Cara yang Berlaku untuk Semua Anak

Rebecca mengingatkan bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda sehingga tidak ada satu metode yang pasti berhasil untuk semua.

Namun, memvalidasi emosi, menggunakan kalimat yang menunjukkan bahwa perasaan tersebut hanya berlangsung “saat ini”, serta menjaga ketenangan orang tua merupakan langkah penting untuk membantu anak belajar mengelola emosinya secara sehat.

Dilansir dari Kompascom.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami