GROBOGAN, GEMADIKA.com – Tradisi budaya dan spiritual kembali menyemarakkan Kabupaten Grobogan melalui gelaran Kirab Pusaka dan Jamasan Suwuk Nusantara yang berlangsung di Dusun Sendangsari, Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Rabu (9/7/2025).

Acara tahunan ini mengangkat tema unik dan sarat makna: “Jowo Digowo, Arab Digarap, Barat Diruwat.”

Kirab ini menjadi magnet spiritual dan budaya, serta wadah pelestarian nilai-nilai luhur Nusantara yang mulai tergerus zaman.

Gus Mbodo, tokoh spiritual sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Ki Ageng Mbodo, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar tradisi.

“Kirab ini bukan sekadar ritual biasa. Ada laku batin, penghormatan pada warisan leluhur, dan harapan agar Nusantara tetap dalam lindungan keberkahan,” ujar Gus Mbodo saat prosesi berlangsung.

Baca juga :  Pengasuh Ponpes di Pekalongan Ditangkap, Diduga Hamili Santriwati dan Miliki Puluhan Korban

Kirab Pusaka dan Jamasan Suwuk Nusantara telah diselenggarakan sejak tahun 2015 dan kini menjadi agenda tahunan yang dinantikan masyarakat.

Gus Mbodo juga menekankan pentingnya “nguri-uri budaya” menjaga dan melestarikan tradisi sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Prosesi kirab dimulai dari Ponpes Darul Falah Ki Ageng Mbodo, dilanjutkan dengan arak-arakan menuju Sumur Brumbung, sebuah lokasi yang dipercaya memiliki karomah atau keberkahan spiritual.

Di sumur ini, peserta mengambil air suci yang digunakan untuk prosesi jamasan pusaka—ritual pembersihan benda pusaka secara spiritual.

Rangkaian acara berakhir di kawasan Suwuk Nusantara, tempat berlangsungnya ritual puncak yang menyatukan unsur budaya Jawa, nilai-nilai Islam, dan spiritualitas lokal yang adaptif terhadap zaman modern.

Baca juga :  Terbongkar! Modus Loloskan Masuk Akpol, Dua Pria di Pati Diduga Tipu Korban Rp1,5 Miliar

Masyarakat sangat antusias mengikuti kirab ini, mulai dari tokoh adat, santri, hingga warga umum. Tak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, kegiatan ini juga memperkuat identitas lokal dan spiritualitas masyarakat.

“Ini bukan hanya soal budaya, tapi juga spiritualitas dan jati diri kita sebagai bangsa. Tradisi seperti ini perlu terus dirawat,” ujar K.H. Haryanto (40), salah satu peserta kirab.

Dengan semangat merawat warisan leluhur, Kirab Pusaka dan Jamasan Suwuk Nusantara diharapkan terus hidup dan mengakar kuat sebagai bagian dari kekayaan budaya Grobogan dan Nusantara secara keseluruhan. (Red)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami