TOLITOLI, GEMADIKA.com – Suasana kegembiraan pesta pernikahan berubah menjadi kepanikan dan duka di Desa Galumpang, Kecamatan Dako Pemean, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Sebuah jembatan gantung yang menjadi akses utama warga tiba-tiba putus pada Minggu sore (7/9/2025) sekitar pukul 16.30 WITA, tepat saat rombongan pengantin dan tamu undangan sedang melintas.
Peristiwa memilukan ini terjadi di Dusun Penyapu ketika puluhan warga sedang berbondong-bondong menyeberangi jembatan gantung untuk menghadiri acara pernikahan yang digelar di dusun setempat.
Jembatan yang menjadi penghubung vital antar-dusun itu tidak mampu menahan beban berlebih akibat banyaknya orang yang melintas bersamaan.
“Jembatan ambruk saat rombongan keluarga pengantin tengah melintas, mungkin kelebihan beban, karena tidak sedang banjir,” tutur warga setempat yang menyaksikan kejadian tersebut.
“Disini sedang ada pesta pernikahan.” Sejak pagi hari, jembatan gantung tersebut memang ramai dilalui warga yang ingin menghadiri hajatan pernikahan. Antusiasme masyarakat untuk turut merayakan hari bahagia pasangan pengantin membuat jembatan dipenuhi orang.
“Saat itu banyak sekali orang yang menyeberang, mungkin terlalu banyak sehingga jembatan tidak kuat lagi menahan beban. Tiba-tiba terdengar suara ‘krek’ lalu ambruk,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Sekitar pukul 16.30 WITA, jembatan tiba-tiba berguncang sebelum akhirnya putus dan menjatuhkan puluhan orang yang berada di atasnya ke aliran sungai di bawah. Suara teriakan panik langsung memenuhi udara, menggantikan suara tawa dan kegembiraan yang sebelumnya terdengar.
Berdasarkan laporan sementara, sekitar 20 orang dilaporkan jatuh ke sungai akibat putusnya jembatan gantung tersebut. Beberapa korban mengalami luka ringan, namun ada yang mengalami cedera cukup parah dan harus segera mendapat pertolongan medis.
“Hingga saat ini belum diketahui pasti berapa jumlah korban yang mengalami luka, yang jelasnya ada korban yang dilarikan ke rumah sakit Tolitoli karena mengalami luka yang cukup parah,” kata sumber di lokasi kejadian.
Para korban yang mengalami luka berat segera dilarikan ke RSUD Mokopido Tolitoli untuk mendapat perawatan intensif. Sementara korban dengan luka ringan mendapat pertolongan pertama di lokasi kejadian.
Mendapat laporan kejadian, aparat kepolisian dari Polsek Dako Pemean langsung bergerak menuju lokasi kejadian. Tim polisi melakukan evakuasi korban bersama warga setempat dan berkoordinasi dengan pemerintah Desa Galumpang untuk menangani situasi darurat.
Pihak kepolisian juga melakukan dokumentasi lengkap dan membuat laporan resmi terkait insiden tersebut. Hingga Minggu malam, aparat masih terus mendata jumlah pasti korban dan mengidentifikasi identitas warga yang terdampak.
Putusnya jembatan gantung Dusun Penyapu memberikan dampak serius bagi aktivitas sehari-hari masyarakat. Jembatan yang selama ini menjadi akses vital untuk menyeberangi sungai kini tidak dapat digunakan, memaksa warga mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko.
Kepala Desa Galumpang, melalui koordinasi dengan aparat kepolisian, mengimbau warga untuk berhati-hati dan tidak memaksakan diri melintas di area jembatan yang rusak.
“Untuk sementara waktu, jembatan gantung tidak bisa digunakan. Kami bersama pihak terkait akan berupaya mencari solusi agar akses warga tidak terhambat terlalu lama,” kata Kepala Desa Galumpang.
Berdasarkan keterangan warga dan kondisi di lokasi, dugaan awal penyebab putusnya jembatan adalah kelebihan kapasitas (over capacity) saat acara pernikahan berlangsung. Cuaca pada saat kejadian dilaporkan normal tanpa hujan atau banjir yang dapat mempengaruhi kestabilan jembatan.
Pihak kepolisian masih mendalami penyebab detail runtuhnya jembatan untuk memastikan tidak ada faktor lain yang berkontribusi terhadap tragedi ini. Hasil penyelidikan nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk pembangunan infrastruktur serupa di masa mendatang. (****)





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan