BANGLI, GEMADIKA.com – Nama Anak Agung Gede Anom Mudita atau dikenal sebagai Kapten Mudita tidak masuk dalam daftar 40 nama tokoh yang diusulkan oleh Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan (GTK) sebagai calon pahlawan nasional tahun 2025.
Padahal, Pemerintah Kabupaten Bangli telah mengusulkan sosok pahlawan kemerdekaan asal Puri Kilian Bangli ini sejak tahun 2020. Berbagai persyaratan lengkap telah dikirimkan dan dinyatakan memenuhi syarat sejak tahun 2024-2025, namun hingga kini belum ada kepastian.
Menunggu Kepastian Sejak 2020
Kepala Dinas Sosial Bangli, I Wayan Jimat, mengungkapkan bahwa Pemkab Bangli melalui Pemerintah Provinsi Bali telah mengusulkan Kapten Mudita masuk dalam daftar Pahlawan Nasional dengan melengkapi seluruh persyaratan yang diminta.
Berbagai dokumen persyaratan telah dikirimkan dan telah dinyatakan lengkap sejak tahun 2024-2025. Namun hingga saat ini, pihaknya belum mendapatkan konfirmasi atau informasi apakah usulan tersebut diterima atau ditolak oleh pemerintah pusat.
“Persyaratan yang kami kirimkan telah dinyatakan lengkap. Sampai sekarang kami masih menunggu informasi,” ujarnya saat dihubungi via telepon, Minggu (9/11/2025).
Terkait syarat kelengkapan yang harus dipenuhi, Jimat mengakui bahwa jumlahnya cukup banyak dan rumit. Namun ia memastikan bahwa semua dokumen yang diminta telah dilengkapi dengan baik oleh tim yang ditugaskan.
“Persyaratannya banyak, maaf saya tidak hafal,” ujarnya jujur.
Sosok Kapten Mudita, Pahlawan Bali Timur
Kapten Mudita merupakan seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari keluarga bangsawan Puri Kilian Bangli. Sosoknya menjadi ikon perlawanan terhadap penjajah di wilayah Bali bagian timur.
Dalam masa penjajahan Belanda pasca-proklamasi kemerdekaan, beliau memimpin perang gerilya melawan tentara NICA (Nederlandsch-Indische Civil Administratie) di wilayah Bali Timur yang meliputi Kabupaten Bangli, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem.
Perjuangan Kapten Mudita tidak mudah. Dengan keterbatasan persenjataan dan logistik, ia dan pasukannya terus melakukan perlawanan gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan.
Gugur dengan Teriakan “Merdeka 100 Persen”
Kapten Mudita gugur dalam pertempuran heroik di Desa Penglipuran, Kubu, Bangli, pada 20 November 1947. Tanggal ini menjadi istimewa karena tepat setahun setelah gugurnya pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai dalam Perang Puputan Margarana pada 20 November 1946.
Detik-detik sebelum gugur melawan pasukan penjajah, Kapten Mudita memekikkan teriakan yang menggetarkan jiwa: “Merdeka 100 Persen!” hingga akhirnya ditembak oleh tentara NICA.
Teriakan terakhir ini menjadi simbol semangat juang yang pantang menyerah dan keyakinan penuh akan kemerdekaan Indonesia. Momen heroik tersebut dikenang hingga kini oleh masyarakat Bangli dan Bali pada umumnya.
Dikenang Sebagai Pahlawan
Semangat patriotisme dan keberanian Kapten Mudita dalam melawan penjajah menjadikannya tokoh yang sangat dihormati dan dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Bali, khususnya wilayah timur.
Pemerintah Kabupaten Bangli dan masyarakat setempat terus berupaya mengusulkan namanya sebagai Pahlawan Nasional agar pengorbanan dan jasanya mendapat pengakuan dari negara.
Upaya ini bukan sekadar untuk mendapat gelar kehormatan, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan generasi terdahulu yang telah mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia.
Ritual Penghormatan Setiap Tahun
Meski belum mendapat gelar pahlawan nasional, masyarakat Bangli tidak pernah lupa akan jasa Kapten Mudita. Setiap tahunnya, tepatnya pada 20 November, Pemkab Bangli menggelar upacara penghormatan khusus.
“Tanggal 20 November kita akan menggelar apel di Taman Makam Pahlawan Penglipuran, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan,” ujar Jimat dengan penuh hormat.
Acara apel ini dihadiri oleh pejabat daerah, TNI, Polri, pelajar, dan masyarakat umum. Ritual ini menjadi pengingat bagi generasi muda Bangli akan semangat juang dan pengorbanan para pahlawan daerah mereka.
Harapan Pengakuan Nasional
Meskipun nama Kapten Mudita belum masuk dalam daftar 40 calon pahlawan nasional tahun 2025, Pemkab Bangli tetap optimis dan tidak akan berhenti memperjuangkan pengakuan nasional bagi pahlawan daerah mereka.
Pemerintah daerah berharap agar perjuangan dan pengorbanan Kapten Mudita yang turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya di wilayah Bali Timur, dapat diakui secara nasional.
Dengan semangat pantang menyerah seperti yang ditunjukkan Kapten Mudita, masyarakat Bangli yakin bahwa suatu saat nanti pahlawan mereka akan mendapat tempat yang layak di jajaran pahlawan nasional Indonesia.
Teriakan “Merdeka 100 Persen” yang menjadi kata terakhir Kapten Mudita tetap bergema di hati masyarakat Bangli, mengingatkan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan sejati tidak pernah berhenti.



Tinggalkan Balasan Batalkan balasan