Dilansir dari NU Online, keputusan ini diambil untuk mengisi kekosongan kepemimpinan dan memastikan roda organisasi tetap berjalan hingga pelaksanaan Muktamar ke-35 yang dijadwalkan sebelum Hari Raya Haji 2026.
Rais Syuriyah PBNU, Prof M Nuh, mengumumkan penetapan tersebut dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa malam. Ia menegaskan bahwa KH Zulfa Mustofa akan menjalankan tugas-tugas kepemimpinan hingga Muktamar berikutnya.
“Penetapan Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU masa bakti sisa sekarang, yaitu yang mulia beliau KH Zulfa Mustofa. Oleh karena itu, beliau akan memimpin PBNU sebagai Penjabat Ketua Umum melaksanakan tugas-tugasnya sampai Muktamar,” tutur Prof M Nuh.
Menurut Prof M Nuh, Muktamar ke-35 NU direncanakan akan diadakan sebelum Hari Raya Haji 2026. Muktamar tersebut nantinya akan menjadi ajang untuk memilih ketua umum definitif yang akan memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Menanggapi amanah yang diberikan, KH Zulfa Mustofa menyatakan kesiapannya untuk mengemban tugas berat tersebut. Dalam pernyataannya, kiai kelahiran Jakarta 7 Agustus 1977 ini menegaskan komitmennya untuk tidak terlarut dalam konflik masa lalu yang pernah melanda internal NU.
“Saya juga menyampaikan, tidak mau menjadi bagian konflik masa lalu. Tapi saya ingin menjadi solusi jam’iyyah ini di masa depan. Saya mengajak pengurus NU, mari kita bersatu kembali di rumah besar ini,” ujar KH Zulfa Mustofa dengan tegas.
Sebagai langkah awal kepemimpinannya, Kiai Zulfa berencana melakukan komunikasi intensif dengan berbagai pihak di internal NU. Ia mengumumkan akan segera menggelar rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah pada 13 Desember mendatang untuk menyatukan visi dan langkah organisasi ke depan.
Penetapan ini terjadi setelah Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menyampaikan apresiasi kepada Ketua Umum PBNU sebelumnya, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), atas pengabdiannya selama empat tahun terakhir memimpin organisasi.
Sosok KH Zulfa Mustofa
KH Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977 dari pasangan KH Muqarrabin dan Nyai Hajjah Marhumah Latifah. Ia memiliki hubungan keluarga dengan ulama nasional KH Ma’ruf Amin, karena ibunya merupakan cucu Nyai Hajjah Maimunah yang juga ibu dari KH Ma’ruf Amin.
Perjalanan pendidikannya dimulai di SD Al-Jihad Tanjung Priok, Jakarta, hingga kelas tiga, sebelum pindah ke Pekalongan. Ia melanjutkan pendidikan menengah di MTs Salafiyah Simbangkulon, Pekalongan, sebelum akhirnya pindah ke Kajen, Pati, untuk memperdalam tradisi pesantren.
Di Kajen, Kiai Zulfa berguru kepada dua ulama besar, yakni KH Sahal Mahfudh dan KH Rifa’i Nasuha. Kedua guru inilah yang membentuk pemahaman mendalam tentang fikih dan ushul fikih yang menjadi bekal penting dalam perjalanan keulamaannya.
Pada usia 19 tahun, Kiai Zulfa mengambil alih tugas mengajar di lima majelis taklim setelah ayahnya wafat. Meski sempat berencana melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, ia memutuskan untuk fokus pada dakwah di tanah air. Pada tahun 2000, ia mendirikan Majelis Taklim Darul Musthofa di Jakarta yang kini menjadi salah satu majelis taklim terkemuka.
Dalam kehidupan keluarga, ia menikah dengan Hulwatin Syafi’ah dan dikaruniai beberapa orang anak. Keluarganya selalu mendampingi aktivitasnya yang padat dalam organisasi dan dakwah.
Karier organisasinya sangat cemerlang. Ia pernah menjabat sebagai Katib Syuriyah dan Wakil Ketua Umum PBNU sebelum akhirnya dipercaya sebagai Pjs Ketua Umum. Di luar NU, ia juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai Sekretaris Jenderal MUI DKI Jakarta dan Ketua Komite Fatwa Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama.
Sebagai seorang ulama, Kiai Zulfa produktif menulis karya ilmiah di bidang fikih dan sastra Arab. Di antaranya adalah “Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li al-Mutafaqqih Jahluhu” dan “Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi’i”. Atas kontribusinya dalam pengembangan ilmu keislaman, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2024.
Dengan pengalaman organisasi yang luas, kapasitas keilmuan yang mumpuni, dan komitmen untuk menyatukan internal NU, KH Zulfa Mustofa diharapkan mampu membawa organisasi menuju stabilitas dan kemajuan hingga Muktamar ke-35 nanti.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan