JAKARTA, GEMADIKA.com – Rupiah Garuda berhasil menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (18/12/2025) pagi.
Penguatan ini terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang tengah menantikan keputusan strategis Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuan atau BI-Rate.
Melansir data Refinitiv, rupiah dibuka menguat ke level Rp16.660 per dolar AS atau terapresiasi 0,15% pada perdagangan pagi hari. Penguatan ini terjadi setelah di sesi perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah 0,15% atau terkoreksi ke level Rp16.685 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mencerminkan kekuatan mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,07% ke level 98,191. Sebelumnya, indeks DXY melemah 0,17% di level 98,146.
Menanti Keputusan Suku Bunga BI
Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan sikap wait and see atau menunggu dan melihat dari para pelaku pasar finansial. Mereka tengah mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu (17-18 Desember 2025).
Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga dan institusi keuangan, terdapat perbedaan pandangan soal arah kebijakan moneter BI. Sebanyak tujuh lembaga memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, sementara lima lembaga lainnya memproyeksikan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) ke level 4,50%.
Ketujuh lembaga yang memprediksi penahanan suku bunga menilai stabilitas nilai tukar rupiah masih menjadi pertimbangan paling krusial bagi otoritas moneter. Walaupun secara fundamental masih ada ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter, namun risiko terhadap kestabilan rupiah dinilai lebih dominan saat ini.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menegaskan pandangan tersebut dengan menilai bahwa Bank Indonesia kemungkinan besar akan mengambil sikap konservatif.
“Saat ini kami melihat risiko pada sisi stabilitas Rupiah lebih mendominasi sehingga BI-rate kemungkinan besar akan ditahan,” ujar Josua Pardede kepada CNBC Indonesia.
Sentimen Global Masih Risk-Off
Josua menjelaskan bahwa sentimen investor global saat ini masih cenderung risk-off atau menghindari risiko. Kondisi ini diperparah dengan pelemahan data ekonomi di kawasan Asia Pasifik, khususnya dari Tiongkok sebagai lokomotif ekonomi regional.
Kombinasi faktor tersebut membuat arus modal masuk (capital inflow) ke pasar domestik Indonesia belum sepenuhnya kondusif. Hal ini menjadi pertimbangan penting mengapa BI perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan pemangkasan suku bunga.
Dolar AS Tertekan di Pasar Global
Dari sisi eksternal, dolar AS di pasar global pada perdagangan Selasa (17/12) justru mengalami tekanan dan jatuh ke level terendah dalam dua bulan terakhir. Mata uang Paman Sam ditutup melemah 0,17%.
Tekanan terhadap dolar dipicu oleh serangkaian rilis data ekonomi AS yang cenderung mendukung kebijakan moneter yang lebih longgar. Data tersebut mencakup angka ketenagakerjaan November, penjualan ritel Oktober, serta aktivitas sektor manufaktur AS yang kurang menggembirakan.
Selain itu, langkah The Federal Reserve (The Fed) yang mulai meningkatkan likuiditas di sistem keuangan melalui program pembelian US$40 miliar per bulan Treasury bills sejak pekan lalu, juga turut menekan nilai tukar dolar.
Pasar finansial global juga mencermati spekulasi bahwa Presiden AS terpilih, Donald Trump, berpotensi menunjuk Ketua The Fed yang cenderung dovish atau mendukung kebijakan moneter longgar. Trump sebelumnya menyatakan akan mengumumkan pilihannya untuk Ketua The Fed yang baru pada awal 2026, yang dinilai akan menjadi sentimen negatif bagi penguatan dolar AS.
Rupiah di Jisdor dan Pasar Spot
Di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia, rupiah tercatat berada di level Rp16.693 per dolar AS pada Selasa (17/12/2025), melemah 0,14% dari hari sebelumnya yang berada di Rp16.669 per dolar AS.
Sementara itu, pergerakan rupiah di pasar spot juga menunjukkan tren serupa. Rupiah ditutup pada level Rp16.691 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (17/12/2025), melemah 0,14% dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp16.667 per dolar AS.
Kinerja Mata Uang Asia
Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama beberapa mata uang regional lainnya pada Selasa sore. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam yakni 0,44%, disusul dolar Taiwan yang melemah 0,41%, rupee India melemah 0,28%, rupiah melemah 0,14%, baht Thailand melemah 0,07%, dan dolar Singapura melemah 0,03% terhadap dolar AS.
Namun, sejumlah mata uang Asia lainnya justru berhasil menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,53%, yen Jepang menguat 0,21%, ringgit Malaysia menguat 0,20%, yuan China menguat 0,08%, dan dolar Hong Kong menguat 0,06% terhadap mata uang Amerika Serikat.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia berada di level 98,26 pada Selasa sore, turun dari posisi sehari sebelumnya yang ada di 98,30.
Pasar kini menunggu pengumuman resmi Bank Indonesia terkait keputusan suku bunga acuan yang akan sangat memengaruhi pergerakan rupiah dan pasar keuangan domestik dalam waktu dekat.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan