MAKASSAR, GEMADIKA.com – Pihak ketiga pelaksana rehabilitasi asrama mahasiswa di Makassar, Ryan Mewa’, secara terbuka meminta Aparat Penegak Hukum (APH), baik kepolisian maupun kejaksaan, untuk melakukan pemeriksaan terhadap proyek yang sedang dikerjakannya.
Proyek rehabilitasi asrama mahasiswa tersebut memiliki nilai anggaran sebesar Rp146.140.000 dan hingga kini masih dalam proses pengerjaan. Ryan menjelaskan bahwa dana yang baru dicairkan oleh pihak terkait sebatas uang muka sebesar 30 persen dari total anggaran.
Meski pencairan anggaran belum sepenuhnya diterima, Ryan menegaskan bahwa pekerjaan tetap dilanjutkan sebagai bentuk komitmen dalam mendukung program Pemerintah Daerah Mamasa.
“Perlu saya sampaikan bahwa pekerjaan hingga saat ini masih terus berjalan, sementara dana yang baru dicairkan hanyalah uang muka sebesar 30 persen dari total anggaran. Meski demikian, pekerjaan tetap kami lanjutkan sebagai bentuk komitmen mendukung program Pemerintah Daerah Mamasa,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, keputusan untuk tetap melanjutkan pekerjaan tidak semata didorong oleh aspek kontraktual, melainkan juga karena faktor kemanusiaan. Ryan mengaku prihatin setelah melihat langsung kondisi asrama mahasiswa yang dinilainya sudah tidak layak huni.
“Keputusan saya melanjutkan pekerjaan juga didorong oleh rasa empati, setelah melihat langsung kondisi tempat tinggal adik-adik mahasiswa yang sangat tidak layak huni,” katanya.
Bahkan, Ryan mengaku harus mengambil langkah pribadi dengan berutang demi memastikan pekerjaan rehabilitasi tetap berjalan, demi membantu pemerintah daerah dan para mahasiswa yang menempati asrama tersebut.
“Saya rela berutang secara pribadi demi membantu pemerintah dan khususnya mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut,” ungkapnya.
Terkait transparansi dan akuntabilitas pekerjaan, Ryan menegaskan kesiapannya untuk bertanggung jawab penuh apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya pekerjaan yang tidak sesuai dengan gambar perencanaan.
“Saya tegaskan, jika dalam pemeriksaan ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan gambar perencanaan, saya siap bertanggung jawab,” tegasnya.
Ia bahkan menyatakan kesediaannya menghentikan pekerjaan apabila mahasiswa sebagai pengguna fasilitas menilai hasil rehabilitasi tidak sesuai harapan.
“Apabila adik-adik mahasiswa menilai pekerjaan ini tidak beres, saya juga siap menghentikan pekerjaan, dan mempersilakan pihak lain untuk melanjutkannya,” ucap Ryan.
Ryan menekankan bahwa sejak awal dirinya mengerjakan proyek tersebut bukan untuk mencari keuntungan, melainkan dilandasi niat kemanusiaan.
“Karena sejak awal, saya bekerja bukan untuk mencari keuntungan, melainkan atas dasar kemanusiaan,” katanya.
Menutup pernyataannya, Ryan mengaku merasa keberatan jika niat baiknya justru dipersepsikan negatif oleh sebagian pihak.
“Saya malu mau dituding jahat dengan anggaran sekecil itu, padahal niat kita baik,” pungkasnya.
(Antyka)





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan