JAKARTA, GEMADIKA.com – Tepat 28 tahun silam, 21 Mei 1998 menjadi salah satu tonggak paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada hari itu, Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, resmi mengundurkan diri setelah berkuasa selama 32 tahun.

Peristiwa ini menandai runtuhnya era Orde Baru sekaligus menjadi awal lahirnya era Reformasi di Indonesia, yang membawa perubahan besar dalam sistem politik, ekonomi, dan kehidupan demokrasi.

Lengsernya Soeharto bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Krisis moneter Asia yang dimulai pada tahun 1997 menjadi pemicu utama runtuhnya stabilitas ekonomi dan politik nasional.

Krisis Moneter Jadi Pemicu Utama
Krisis ekonomi mulai menghantam Indonesia pada pertengahan 1997. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok tajam, dari sekitar Rp2.200 per dolar menjadi Rp12.000 hingga Rp18.000 per dolar AS dalam waktu singkat.

Kondisi ini berdampak besar terhadap dunia usaha, terutama perusahaan yang memiliki utang luar negeri. Beban pembayaran meningkat drastis, sementara aktivitas ekonomi justru melemah.

Di sisi lain, kepanikan masyarakat turut memperparah situasi. Banyak warga berbondong-bondong menukarkan rupiah ke dolar AS karena khawatir terhadap kondisi ekonomi. Hal ini semakin menekan nilai tukar rupiah.

Dampak Sosial dan Gelombang Demonstrasi
Krisis ekonomi tersebut langsung dirasakan masyarakat luas. Harga kebutuhan pokok melonjak, inflasi meningkat, dan angka pengangguran bertambah signifikan.

Situasi ini kemudian berkembang menjadi krisis sosial dan politik. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah terus menurun, hingga akhirnya memicu gelombang demonstrasi besar-besaran di berbagai daerah, terutama yang digerakkan oleh mahasiswa.

Tekanan publik yang semakin kuat akhirnya memaksa Soeharto untuk mengundurkan diri dari jabatannya pada 21 Mei 1998.

Awal Era Reformasi
Pengunduran diri Soeharto membuka babak baru dalam sejarah Indonesia, yakni era Reformasi. Era ini ditandai dengan berbagai perubahan penting, seperti kebebasan pers, pembatasan masa jabatan presiden, serta penguatan sistem demokrasi.

Peristiwa 21 Mei 1998 hingga kini terus dikenang sebagai simbol perjuangan rakyat dalam menuntut perubahan dan keadilan.

Dilansir dari: Breakingnews.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami