JAKARTA, GEMADIKA.com – Pemerintah tengah menyiapkan langkah besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG 3 kilogram (kg) dengan menghadirkan energi alternatif pengganti. Dua opsi yang kini dikembangkan yakni Dimethyl Ether (DME) berbahan batu bara dan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan pengembangan kedua proyek tersebut bertujuan menekan impor LPG yang saat ini mencapai sekitar 7 juta ton per tahun.

Menurutnya, tingginya impor LPG membuat pemerintah harus mengeluarkan devisa hingga Rp130–140 triliun setiap tahun, termasuk subsidi sebesar Rp80–87 triliun.

“Devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp130 sampai Rp140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM


1. DME dari Batu Bara Jadi Alternatif LPG

Salah satu proyek yang kembali didorong pemerintah adalah pengembangan DME sebagai substitusi LPG.

Proyek ini sebenarnya sudah lama direncanakan, namun baru mulai dipercepat pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui program hilirisasi nasional.

Baca juga :  KPK Dorong E-Voting untuk Tekan Biaya Pemilu dan Cegah Politik Uang

Pemerintah telah melakukan groundbreaking 13 proyek hilirisasi tahap kedua senilai Rp116 triliun. Salah satunya pembangunan fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

“Hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan bangsa Indonesia,” kata Prabowo dalam peresmian proyek tersebut.

Apa Itu DME?

Berdasarkan penjelasan Kementerian ESDM, DME memiliki sifat kimia dan fisika yang mirip dengan LPG sehingga dapat menggunakan infrastruktur yang sudah ada, mulai dari tabung hingga sistem penyimpanan.

DME juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mudah terurai di udara dan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 20 persen.

Selain itu, nyala api DME disebut lebih biru dan stabil serta tidak mengandung sulfur.


2. Pemerintah Uji Coba CNG Tabung 3 Kg

Selain DME, pemerintah juga mengembangkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi pengganti LPG.

Saat ini, penggunaan CNG sebenarnya sudah diterapkan untuk tabung ukuran 12 kg dan 20 kg di sektor hotel dan restoran. Namun pemerintah kini sedang menguji teknologi tabung CNG ukuran 3 kg agar dapat digunakan masyarakat luas.

“Untuk mendapatkan teknologi yang 3 kilogramnya, ini lagi kita tes,” jelas Bahlil.

Pemerintah memastikan subsidi tetap akan diberikan untuk penggunaan CNG agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat,” katanya.

Harga Diklaim Lebih Murah

Bahlil mengungkapkan harga CNG diperkirakan sekitar 30 persen lebih murah dibandingkan LPG karena bahan bakunya tersedia melimpah di dalam negeri.

Baca juga :  Waspada! Banjir Rob Ancam Pesisir Jakarta Pertengahan Mei 2026, Ratusan Pompa Disiagakan

Menurutnya, penggunaan gas domestik juga membuat biaya distribusi dan impor bisa ditekan.

“CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30 persen lebih murah,” ujarnya.

Pemerintah berharap pengembangan DME dan CNG dapat menjadi solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi beban subsidi negara.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami