JAKARTA, GEMADIKA.com — Angka itu terdengar tidak masuk akal, namun itulah faktanya. Selama dua masa jabatannya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tercatat telah mengancam, membuka kemungkinan menyerang, atau benar-benar melakukan aksi militer terhadap 15 negara, setara dengan perkiraan 1 dari setiap 13 negara di dunia.

Data mengejutkan ini terungkap berdasarkan analisis mendalam yang dilakukan CNN, yang kemudian dikutip luas oleh berbagai media internasional. Negara-negara yang pernah diancam atau diserang oleh Trump menampung sekitar 1 dari 11 penduduk di bumi.

Oman: Negara ke-15 yang Masuk Daftar

Negara terbaru yang masuk dalam daftar tersebut adalah Oman, setelah Trump melontarkan ancaman terhadap negara Teluk itu terkait ketegangan di Selat Hormuz. Dalam rapat kabinet Gedung Putih pada Rabu (27/5/2026), Trump memperingatkan Oman agar tidak bekerja sama dengan Iran dalam mengendalikan jalur pelayaran strategis tersebut.

Ancaman Trump disampaikan dengan nada keras dan blak-blakan:

“Oman akan bersikap seperti negara lain, atau kami harus menghancurkan mereka,” kata Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih.

Laporan CNN menyebut pernyataan Trump tersebut tampaknya disampaikan secara santai dan bukan bagian dari pengumuman kebijakan resmi, namun mencerminkan pola yang lebih luas dalam kebijakan luar negeri Trump, di mana ancaman penggunaan kekuatan militer menjadi ciri yang berulang.

5 Negara yang Disebut Trump Sebagai Target Perluasan Wilayah AS

Dari 15 negara yang pernah diancam atau diserang, lima di antaranya disebut Trump sebagai kemungkinan tambahan wilayah Amerika Serikat atau target kontrol AS, yakni Kanada, Kuba, Greenland, Panama (khususnya Terusan Panama), serta Venezuela.

Pola Kebijakan Luar Negeri yang Mengkhawatirkan Dunia

Rangkaian ancaman Trump ini bukan sekadar retorika politik biasa. Analis internasional menilai pola ini mencerminkan pendekatan kebijakan luar negeri AS yang semakin agresif dan transaksional di bawah kepemimpinan Trump, di mana kekuatan militer dijadikan instrumen diplomasi utama.

Jumlah tersebut dinilai mencerminkan semakin agresifnya pendekatan luar negeri Washington di bawah Trump.

Dunia kini menyaksikan dengan cermat setiap pernyataan yang keluar dari Gedung Putih, karena dalam era Trump, sebuah pernyataan “santai” di rapat kabinet pun bisa berujung pada krisis geopolitik yang mengguncang stabilitas global.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami