JAKARTA, GEMADIKA.com — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bergerak cepat merespons temuan mengejutkan: seorang Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal dan bekerja di Jakarta Pusat teridentifikasi sebagai kontak erat dari klaster hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius — kapal yang sebelumnya telah mencatatkan korban jiwa akibat virus berbahaya tersebut.

Kabar ini sempat memicu kekhawatiran publik. Namun pemerintah memastikan situasi sudah terkendali dan WNA tersebut dalam kondisi sehat serta tidak menunjukkan gejala apa pun.

Kronologi: Dari Kapal Pesiar hingga Jakarta

Berikut rangkaian peristiwa yang melatarbelakangi kasus ini:

  • 24 April 2026 — WNA pria berusia 60 tahun ini berada di hotel yang sama dengan pasien terkonfirmasi hantavirus kedua yang kemudian meninggal dunia, saat persinggahan di St. Helena, Atlantik Selatan. Keduanya juga menumpangi penerbangan yang sama dari St. Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dengan posisi kursi yang berdekatan.
  • 30 April 2026 — WNA tersebut kembali ke Indonesia melalui jalur Zimbabwe dan Qatar.
  • 7 Mei 2026, pukul 21.55 WIB — Kemenkes menerima notifikasi resmi dari International Health Regulation (IHR) National Focal Point (NFP) Inggris terkait status kontak erat WNA ini.
  • 8 Mei 2026 — Kemenkes langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dan koordinasi lintas sektor.
  • 9 Mei 2026 — Tim Kemenkes menjemput dan mengevakuasi WNA tersebut ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso untuk pemeriksaan spesimen menyeluruh.
Baca juga :  SPMB 2026 Segera Dibuka, Ini Syarat, Jalur Pendaftaran, dan Kuota Lengkapnya

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan kecepatan respons pemerintah dalam menghadapi potensi ancaman ini.

Respons kami sangat cepat. Begitu mendapatkan notifikasi pada 7 Mei pukul 21.55 WIB, keesokan harinya kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dan koordinasi lintas sektor, ujar Andi Saguni.

WNA Sudah Karantina Mandiri Sejak Tiba di Indonesia

Meski sempat ada kekhawatiran bahwa WNA ini telah berkontak dengan orang lain sebelum dipantau secara resmi, Andi Saguni menepis kekhawatiran tersebut. Ternyata, WNA ini sudah sadar diri dan langsung mengambil langkah pencegahan mandiri begitu tiba di tanah air.

“Kontak erat yang dimaksud sudah memiliki pengalaman dan kewaspadaan tinggi khususnya terkait hantavirus, sehingga setelah tiba di Indonesia, dan mendapatkan notifikasi dari Inggris, dia karantina mandiri di tempat tinggal dan bekerja WFH,” jelas Andi.

Andi juga menyebut WNA ini sangat kooperatif dan bersedia mengikuti seluruh prosedur keselamatan yang ditetapkan pemerintah.

Hasil PCR: Negatif Hantavirus

Kabar baiknya, hasil pemeriksaan laboratorium membuahkan hasil yang melegakan. Lima spesimen yang diambil dari WNA tersebut seluruhnya menunjukkan hasil negatif hantavirus.

Baca juga :  Tempuh 7 Jam Demi Tes Koperasi Merah Putih, Tri Agus Kecewa Sistem CAT Diduga Bermasalah

Hasil pemeriksaan PCR menyatakan yang bersangkutan negatif hantavirus. Lima spesimen yang kami ambil semuanya menunjukkan hasil negatif, tegas Andi.

Tetap Dipantau di RSPI Sulianti Saroso

Meski hasil PCR negatif dan secara teknis pedoman WHO memungkinkan WNA ini melanjutkan karantina mandiri di rumah, pemerintah memilih untuk tetap menempatkannya di RSPI Sulianti Saroso demi kehati-hatian ekstra.

Ini dilakukan karena masa inkubasi hantavirus bisa berlangsung lebih dari dua pekan, sehingga pemantauan ketat tetap diperlukan.

“Kontak erat ini tinggal sendiri, komunikasi dengan orang lain itu tidak ada, di samping pemahamannya sudah bagus,” lanjut Andi.

Kondisi WNA tersebut akan dievaluasi setiap hari dan akan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk benar-benar dinyatakan bebas dari hantavirus.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus adalah virus yang umumnya ditularkan melalui kontak dengan tikus atau ekskreta (kotoran, urine, air liur) hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan antar manusia sangat jarang terjadi, namun beberapa varian virus ini diketahui memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi. Kasus klaster MV Hondius menjadi perhatian global karena melibatkan penumpang kapal pesiar dari berbagai negara.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami