JAKARTA, GEMADIKA.com – Relawan kemanusiaan asal Indonesia yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, Rahendro Herubowo, mengungkap dugaan penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi yang dialaminya saat ditahan aparat Israel di Laut Mediterania.

Heru, sapaan akrab Rahendro Herubowo, mengaku mengalami kekerasan fisik hingga tekanan psikologis setelah kapal kemanusiaan yang ditumpanginya dicegat oleh militer Israel di perairan internasional.

Setibanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (25/5/2026), Heru menceritakan bahwa dirinya bersama relawan lain ditempatkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan selama masa penahanan.

“Banyak perlakuan fisik yang kami alami. Bukan hanya kekerasan, tetapi kami juga ditempatkan dalam kondisi yang sangat tidak nyaman selama ditawan,” ujar Heru kepada awak media.

Ia mengungkapkan, para relawan ditahan di kapal khusus yang disebut menyerupai kontainer terapung. Selama tiga hari, kapal tersebut terus berputar di Laut Mediterania tanpa kejelasan tujuan.

Baca juga :  Hari Ini Puasa Tarwiyah, Berikut Bacaan Niat dan Keutamaannya

“Kami seperti berada di dalam kontainer. Selama tiga hari kapal tahanan itu terus berputar-putar di laut dan kami tidak tahu akan dibawa ke mana,” katanya.

Tak hanya itu, Heru menyebut para relawan juga harus bertahan dalam suhu dingin dengan keterbatasan makanan dan pakaian. Mereka hanya diperbolehkan mengenakan pakaian yang melekat di tubuh saat penangkapan berlangsung.

Heru juga membeberkan dugaan penyiksaan fisik yang dialaminya sejak pertama kali dibawa ke kapal tahanan. Ia mengaku sempat ditelungkupkan, disiram air, hingga dipukul berkali-kali oleh petugas.

“Saya dipukul di bagian kepala berkali-kali, kemudian tubuh bagian depan dan belakang juga dipukul. Saya sempat jatuh lalu diinjak,” ungkapnya.

Bahkan, Heru mengaku sempat disetrum hingga akhirnya berteriak meminta pertolongan agar tindakan tersebut dihentikan.

Baca juga :  Ketegangan Memanas, Jet Tempur AS Dilaporkan Serang Kapal Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz

“Terakhir saya disetrum sampai akhirnya saya berteriak cukup kencang dan mereka berhenti,” lanjutnya.

Menurut Heru, terdapat banyak aktivis kemanusiaan dari berbagai negara yang juga ditahan di kapal tersebut. Ia menyebut dirinya mendapat nomor urut 82 selama penahanan berlangsung.

“Setahu saya ada tiga kapal tahanan di tengah Laut Mediterania yang digunakan untuk menahan para aktivis,” jelasnya.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia memastikan sembilan WNI peserta misi Global Sumud Flotilla 2.0 telah dibebaskan dan dipulangkan ke Tanah Air. Pemerintah RI juga mengecam tindakan Israel yang dinilai melanggar hukum internasional karena mencegat kapal sipil pembawa bantuan kemanusiaan di perairan internasional.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami