JAKARTA, Gemadika.com Kisah para guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mengabdi selama belasan tahun dengan honor hanya Rp150 ribu per bulan kembali menjadi sorotan publik. Fenomena ini menunjukkan masih adanya ketimpangan kesejahteraan tenaga pendidik di tingkat akar rumput, khususnya di lembaga PAUD swasta dan desa yang memiliki keterbatasan anggaran operasional.

Sejumlah kasus yang terungkap dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa banyak guru PAUD tetap bertahan menjalankan tugas mulianya meski menerima penghasilan jauh di bawah standar upah minimum.

Salah satu kisah yang menyita perhatian datang dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Guru PAUD bernama Siti Rodiah mengungkapkan bahwa dirinya telah mengabdi selama 15 tahun di Kelompok Bermain (KB) Al Husna. Namun selama masa pengabdian tersebut, ia hanya menerima honor sebesar Rp150 ribu per bulan.

Bahkan, dalam pengakuannya saat menghadiri kegiatan reses anggota DPR RI pada Oktober 2025, Siti Rodiah menyebut pernah menerima honor yang lebih rendah, yakni hanya Rp50 ribu per bulan.

Kondisi serupa juga dialami Sugianti, guru PAUD asal Bondowoso, Jawa Timur. Pada 2019 lalu, kisahnya viral secara nasional setelah ia menyampaikan langsung keluhannya kepada Sandiaga Uno yang saat itu masih berstatus calon wakil presiden.

Sugianti mengaku telah mengajar selama 18 tahun sebagai guru PAUD dengan gaji yang tidak pernah jauh dari angka Rp150 ribu per bulan. Ia mengungkapkan rasa kecewanya karena profesi guru PAUD dinilai masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Fenomena tersebut ternyata bukan kasus yang berdiri sendiri. Dalam beberapa waktu terakhir, media sosial juga diramaikan oleh unggahan para guru PAUD yang memperlihatkan besaran honor yang mereka terima setiap bulan.

Melalui berbagai video yang viral di platform TikTok, sejumlah guru PAUD memperlihatkan slip gaji dengan nominal berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per bulan. Meski demikian, banyak dari mereka tetap menunjukkan semangat mengajar dan terus berupaya meningkatkan kompetensi dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Rendahnya kesejahteraan guru PAUD umumnya terjadi karena sebagian besar lembaga PAUD di daerah dikelola secara swasta atau berbentuk yayasan mandiri. Operasional sekolah sering kali hanya bergantung pada iuran orang tua murid, bantuan masyarakat, maupun dukungan terbatas dari pemerintah desa.

Keterbatasan sumber pendanaan tersebut membuat banyak lembaga PAUD tidak mampu memberikan honor yang layak kepada tenaga pendidik. Akibatnya, para guru tetap menjalankan tugas mendidik generasi penerus bangsa dengan penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Berbagai pihak menilai kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah. Peningkatan kesejahteraan guru PAUD dianggap penting karena mereka memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, kemampuan dasar, dan perkembangan anak pada usia dini.

Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi, dedikasi para guru PAUD menjadi bukti bahwa pengabdian terhadap dunia pendidikan sering kali dilakukan dengan penuh keikhlasan. Namun demikian, banyak kalangan berharap pengabdian tersebut dapat diimbangi dengan penghargaan yang lebih layak agar kesejahteraan para pendidik turut meningkat seiring pentingnya peran mereka dalam mencerdaskan generasi bangsa.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami