JAKARTA, GEMADIKA.com – Seorang pria muda bernama Niven Hopkins mengalami perubahan drastis dalam hidupnya setelah didiagnosis gagal ginjal, meski sebelumnya merasa sangat sehat dan aktif secara fisik.

Di usianya yang masih 26 tahun pada 2024, Niven menjalani gaya hidup sehat dengan rutin berolahraga, termasuk pergi ke gym dan berlari. Ia juga bekerja di bidang teknik yang menuntut aktivitas fisik tinggi. Kondisinya saat itu tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit serius.

Namun, semuanya berubah dalam satu malam. Sepulang kerja, Niven merasakan nyeri hebat pada kakinya hingga mengira mengalami patah tulang, meski tidak ada benturan. Keesokan harinya, kondisinya semakin memburuk dengan pembengkakan, kemerahan, dan rasa sakit luar biasa.

Dokter awalnya mendiagnosisnya mengalami serangan asam urat parah. Setelah menjalani tes darah, ia sempat diizinkan pulang. Namun beberapa hari kemudian, saat berlibur di Lake District, Inggris, ia mendapat panggilan mendadak dari rumah sakit pada pukul 4 pagi.

Didiagnosis Gagal Ginjal Mendadak

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Niven mengalami gagal ginjal. Diagnosis tersebut membuatnya tidak percaya.

“Saya ingat berpikir, ini tidak mungkin benar. Pasti ada kesalahan,” kenangnya.

Pemeriksaan lanjutan mengungkap bahwa ia mengidap kondisi genetik langka. Riwayat keluarganya juga menunjukkan ibunya pernah menjalani dua kali transplantasi ginjal.

Kondisinya terus memburuk hingga masuk stadium 4, dan kini berkembang menjadi stadium 5 atau tahap akhir.

Gejala Awal yang Sering Diabaikan

Niven kemudian menyadari bahwa tubuhnya sebenarnya telah memberikan berbagai tanda peringatan, namun ia mengabaikannya karena dianggap ringan.

Beberapa gejala awal tersebut antara lain:

Kelelahan kronis, yang dianggap sebagai dampak aktivitas padat
Urine berbusa, tanda adanya kebocoran protein akibat gangguan ginjal
Sakit punggung, yang disangka cedera otot biasa
Kabut otak (brain fog), seperti sulit fokus dan mudah lupa

Gejala-gejala ini sering kali tidak disadari sebagai tanda gangguan ginjal, terutama pada usia muda.

Kini Bergantung pada Dialisis Setiap Hari

Kini, di usia 28 tahun, kehidupan Niven berubah total. Ia harus menjalani prosedur Dialisis setiap malam selama sembilan jam menggunakan metode Automated Peritoneal Dialysis (APD).

Melalui selang khusus yang dipasang di perut, mesin dialisis membantu menggantikan fungsi ginjalnya yang sudah tidak bekerja.

“Setiap bangun tidur, saya harus memeriksa berat badan, memantau tekanan darah, dan minum obat sepanjang hari,” tuturnya.

Meski masih bisa beraktivitas seperti berolahraga ringan dan berkumpul dengan teman, ia kerap mengalami kelelahan ekstrem yang datang tiba-tiba.

Edukasi untuk Anak Muda

Pengalaman tersebut mendorong Niven untuk aktif membagikan kisahnya di media sosial. Ia ingin meningkatkan kesadaran, khususnya di kalangan anak muda, bahwa penyakit serius seperti gagal ginjal tidak hanya menyerang usia lanjut.

Selama ini, menurutnya, banyak informasi tentang penyakit ginjal lebih berfokus pada pasien usia tua, sehingga generasi muda cenderung mengabaikan gejala awal.

Kisah Niven menjadi pengingat bahwa deteksi dini sangat penting, terutama jika muncul gejala ringan yang berlangsung terus-menerus.

Dilansir dari Detikhelt.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami