KEPAHIANG, GEMADIKA.com – Dugaan kasus keracunan makanan kembali terjadi setelah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi di Desa Taba Tebelet, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, pada Kamis (4/6/2026).
Sedikitnya 18 orang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang diduga berasal dari program MBG. Dari jumlah tersebut, lima siswa SD Negeri 18 Kepahiang harus mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Kelobak.
Informasi yang dihimpun menyebutkan para siswa menerima paket makanan bergizi yang berisi olahan tahu, telur, perkedel, tempe, serta buah-buahan. Tidak lama setelah menyantap makanan tersebut, sejumlah siswa mulai merasakan gejala seperti mual, pusing, sakit perut, hingga muntah.
Pihak sekolah yang mengetahui kondisi para siswa segera berkoordinasi dengan tenaga kesehatan setempat. Beberapa korban kemudian dievakuasi menggunakan ambulans menuju Puskesmas Kelobak untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Setibanya di fasilitas kesehatan, para pasien langsung mendapat perawatan darurat berupa pemberian cairan infus dan obat-obatan sesuai kondisi masing-masing. Hingga saat ini, kondisi korban dilaporkan mulai membaik dan masih berada dalam pemantauan tenaga medis.
Salah seorang warga mengaku anggota keluarganya turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
“Keponakan saya makan menu MBG di sekolahnya. Tidak lama kemudian pusing dan muntah-muntah hingga harus dibawa ke Puskesmas Kelobak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Wisnu Irawan, membenarkan adanya laporan dugaan keracunan yang menimpa sejumlah pelajar dan satu orang dewasa.
Menurutnya, seluruh korban diketahui mengonsumsi makanan yang berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di kawasan Prumnas Kroya, Desa Taba Tebelet.
Wisnu menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan langkah cepat dengan memantau kondisi korban serta mengambil sampel makanan yang diduga menjadi penyebab kejadian tersebut.
“Menu yang kami terima informasinya terdiri dari olahan tahu dan telur, perkedel, serta buah-buahan. Spesimen makanan sudah kami kirim ke BPOM untuk dilakukan pengujian,” jelasnya.
Apabila kondisi pasien memerlukan penanganan lebih lanjut, pihak Dinas Kesehatan menyatakan korban akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
Saat ini hasil pemeriksaan laboratorium masih ditunggu untuk memastikan penyebab pasti munculnya gejala yang dialami para korban. Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga terus melakukan pemantauan guna memastikan kondisi kesehatan para siswa dan warga yang terdampak.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG, mitra penyedia makanan, maupun aparat kepolisian mengenai penyebab pasti insiden tersebut. Penyelidikan dan pemeriksaan laboratorium masih berlangsung.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan