JAKARTA, GEMADIKA.com – Nama Candi Borobudur kini dikenal sebagai salah satu warisan budaya dunia dan menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak setiap tahun. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa proses pengungkapan kembali situs bersejarah tersebut turut melibatkan sosok keturunan Tionghoa bernama Tan Jin Sing.

Tan Jin Sing tercatat dalam sejarah sebagai bupati keturunan Tionghoa pertama di Pulau Jawa. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memberikan informasi awal kepada pemerintahan Inggris mengenai keberadaan bangunan candi besar yang saat itu tertutup semak belukar dan nyaris terlupakan.

Kisah ini bermula ketika Inggris mengambil alih pemerintahan di Jawa pada tahun 1811. Pada masa itu, Tan Jin Sing merupakan tokoh keturunan Tionghoa yang memiliki hubungan dekat dengan Keraton Yogyakarta dan pemerintah kolonial Inggris.

Berkat perannya dalam mendukung Keraton Yogyakarta dan pemerintahan Inggris, Tan Jin Sing kemudian diangkat menjadi bupati oleh Raden Mas Surojo yang bergelar Sultan Hamengku Buwono III. Ia memperoleh gelar Raden Tumenggung Secodiningrat dan menjadi tokoh Tionghoa pertama yang menduduki jabatan bupati di Jawa.

Tak lama setelah menjabat, Tan Jin Sing memutuskan memeluk agama Islam dan menjalani khitan. Ia juga meninggalkan tradisi taucang atau rambut berkuncir yang saat itu menjadi identitas budaya masyarakat Tionghoa.

Informasi Awal yang Mengubah Sejarah

Sekitar tahun 1813, Tan Jin Sing menyampaikan informasi kepada Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Thomas Stamford Raffles, mengenai laporan seorang mandor di Desa Bumisegoro yang menemukan bangunan candi besar di pedalaman Jawa.

Informasi tersebut menarik perhatian Raffles yang dikenal memiliki minat besar terhadap sejarah dan kebudayaan Nusantara. Saat itu, keberadaan bangunan kuno tersebut hampir tidak diketahui publik karena tertutup tanah dan vegetasi yang tumbuh selama bertahun-tahun.

Raffles kemudian meminta Tan Jin Sing untuk meninjau langsung lokasi tersebut bersama warga setempat yang mengenal kawasan itu.

Saat tiba di lokasi, Tan Jin Sing menemukan sebuah bangunan besar dalam kondisi terbengkalai. Sebagian besar struktur candi tertutup semak liar dan timbunan tanah akibat lama tidak terawat.

Warga setempat menyebut bangunan tersebut dengan nama Borobudur.

“Ditaksir usianya lebih dari 100 tahun,” kata Tan Jin Sing sebagaimana dikutip dari penuturan keturunannya, T.S. Werdoyo dalam buku Tan Jin Sing: Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta (1990).

Awal Pemugaran Borobudur

Setelah menerima laporan tersebut, Raffles segera memerintahkan upaya pembersihan dan pembukaan kawasan Borobudur. Proses tersebut melibatkan Christian Cornelius, seorang teknisi dan peneliti yang berpengalaman menangani situs-situs kuno di Jawa.

Menurut catatan sejarah, Tan Jin Sing, Cornelius, dan sekitar 200 warga lokal bekerja membersihkan area candi dengan menebangi semak belukar serta menggali timbunan tanah yang menutupi struktur bangunan.

Setelah sekitar dua minggu proses pembersihan berlangsung, bentuk megah Borobudur mulai terlihat kembali. Temuan tersebut kemudian menjadi tonggak penting dalam pelestarian salah satu candi Buddha terbesar di dunia.

Sejak saat itu, Borobudur perlahan mendapatkan perhatian luas dari para peneliti, sejarawan, dan pemerintah kolonial hingga akhirnya menjadi salah satu situs budaya paling penting di Indonesia.

Kini Menjadi Pusat Perayaan Waisak

Berkat proses pengungkapan kembali yang dimulai pada awal abad ke-19 tersebut, Candi Borobudur kini menjadi salah satu destinasi budaya dan religi paling terkenal di dunia.

Setiap tahun, kompleks candi ini menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak yang dihadiri umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

Borobudur dipandang sebagai simbol perjalanan spiritual umat Buddha. Struktur candi yang bertingkat menggambarkan tahapan kehidupan manusia menuju pencerahan, mulai dari dunia nafsu hingga mencapai kesempurnaan spiritual.

Rangkaian perayaan Waisak biasanya diawali dengan pengambilan api abadi dan air suci, dilanjutkan prosesi menuju Borobudur, hingga pelepasan lampion yang melambangkan harapan, kedamaian, dan pencerahan batin.

Peran Tan Jin Sing dalam mengungkap kembali keberadaan Borobudur menjadi bagian penting dari sejarah yang sering kali luput dari perhatian. Namanya tercatat sebagai salah satu tokoh yang turut berjasa dalam mengembalikan salah satu mahakarya peradaban Nusantara ke panggung dunia.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami