GEMADIKA.com – Di tengah meningkatnya tekanan aktivitas dan tuntutan kehidupan modern, terapi musik dinilai menjadi salah satu metode efektif untuk membantu menjaga kesehatan mental serta meredakan stres yang dialami masyarakat.
Psikolog klinis dr. Andini Prameswari, M.Psi, menjelaskan bahwa terapi musik dapat digunakan sebagai pendekatan non-medis dalam membantu mengelola stres, kecemasan, hingga gangguan emosional ringan. Menurutnya, musik memiliki pengaruh langsung terhadap sistem saraf yang berperan dalam mengatur emosi dan respons tubuh terhadap tekanan.
Ia mengatakan, musik dengan tempo lambat dan harmoni yang lembut mampu membantu tubuh menjadi lebih rileks serta menurunkan kadar hormon stres atau kortisol. Selain itu, mendengarkan musik yang sesuai juga dapat membantu mengatur detak jantung dan pola pernapasan menjadi lebih tenang.
“Musik memiliki kemampuan memengaruhi emosi, detak jantung, dan pernapasan. Ketika seseorang mendengarkan musik yang sesuai, tubuh secara alami masuk ke kondisi lebih tenang,” ujar dr. Andini.
Menurutnya, terapi musik tidak hanya dilakukan dengan mendengarkan lagu-lagu tertentu, tetapi juga dapat melalui aktivitas bernyanyi, memainkan alat musik, maupun menulis lagu sebagai sarana mengekspresikan perasaan. Pendekatan tersebut membantu individu mengenali dan mengelola emosi secara lebih sehat.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa terapi musik dapat membantu mengurangi tingkat kecemasan, meningkatkan suasana hati, memperbaiki kualitas tidur, serta mendukung proses pemulihan kesehatan mental. Karena itu, terapi musik kerap dimanfaatkan sebagai pelengkap dalam penanganan berbagai kondisi psikologis.
Meski demikian, dr. Andini mengingatkan bahwa terapi musik bukan pengganti penanganan medis atau psikologis profesional bagi individu yang mengalami gangguan kesehatan mental berat. Ia menyarankan masyarakat untuk tetap berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami gejala yang berkepanjangan atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Terapi musik dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga keseimbangan emosional. Namun, jika keluhan sudah mengarah pada gangguan yang lebih serius, pendampingan profesional tetap diperlukan,” pungkasnya.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan