‎‎REMBANG, GEMADIKA.com – Tradisi Tawur Sego kembali menjadi puncak perayaan Sedekah Bumi di Punden Sendang Nyah Desa Pelemsari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, Rabu (15/7/2026). Bagi masyarakat setempat, tradisi turun-temurun tersebut bukan sekadar saling melempar nasi, melainkan simbol rasa syukur atas hasil panen, doa keselamatan, sekaligus perekat persaudaraan.

‎‎Kepala Desa Pelemsari, Maspin, mengatakan Tawur Sego telah diwariskan oleh para leluhur dan terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.

‎‎”Tradisi ini sudah ada sejak nenek moyang. Sedekah bumi dan tawur sego merupakan bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang kami peroleh,” ujar Maspin.

‎‎Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi doa agar hasil pertanian dan peternakan masyarakat tetap melimpah serta terhindar dari berbagai musibah.

‎‎”Maknanya juga sebagai tolak bala bagi pertanian dan ternak,” katanya.

Baca juga :  Kasus Crusher di Pelabuhan Sluke Diusut, Polisi Mulai Periksa Sejumlah Pihak

‎‎Maspin menegaskan, pelestarian Tawur Sego menjadi tanggung jawab bersama. Selain menjaga warisan budaya leluhur, tradisi itu dinilai mampu memperkuat kebersamaan warga.

‎‎”Kami harus terus melestarikan budaya leluhur ini. Dengan adanya tawur sego, rasa persaudaraan masyarakat semakin erat,” ucapnya.

‎‎Pemerintah Desa Pelemsari, lanjut Maspin, juga berkomitmen mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.

‎‎”Harapan kami tradisi ini terus dilestarikan dan dikenalkan kepada anak cucu karena mampu mempererat persaudaraan,” tuturnya.

‎‎Ia juga menepis anggapan bahwa prosesi saling melempar nasi dapat memicu permusuhan. Menurutnya, selama tradisi berlangsung tidak pernah terjadi konflik antarpeserta.

‎‎”Tidak pernah ada dendam ataupun permusuhan. Justru para pemuda merasa senang dan semakin akrab dengan adanya tawur sego,” tegasnya.

Baca juga :  Tambang Batu Ilegal Dekat Batas Hutan di Lemah Putih Rembang Masuk Babak Baru, APH Dilibatkan

‎‎Sementara itu, salah seorang warga Desa Pelemsari, Andi, mengatakan perayaan Sedekah Bumi tahun ini berlangsung lebih meriah dibanding beberapa tahun sebelumnya.

‎‎”Tahun ini sangat meriah. Pemuda-pemudanya juga sangat antusias mengikuti acara ini,” katanya.

‎‎Andi yang turut mengikuti Tawur Sego menegaskan bahwa tradisi tersebut bukan ajang mencari permusuhan, melainkan bagian dari budaya yang mempererat kebersamaan.

‎‎”Tidak ada dendam sama sekali. Ini hanya hiburan adat dan budaya Desa Pelemsari untuk mempererat tali persaudaraan antar pemuda,” ujarnya.

‎‎Ia berharap tradisi Sedekah Bumi dan Tawur Sego terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang membanggakan sekaligus membawa keberkahan bagi masyarakat, terutama melalui hasil panen yang semakin melimpah.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami