JAKARTA, GEMADIKA.com – Menjaga kebersihan gigi dan mulut anak ternyata tidak hanya penting untuk mencegah gigi berlubang atau bau mulut, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental dan kepercayaan diri mereka.

Berdasarkan laporan C.S. Mott Children’s Hospital National Poll on Children’s Health 2025 yang dikutip KOMPAS.com, sebanyak 36 persen anak usia 4 hingga 17 tahun mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut dalam dua tahun terakhir. Keluhan tersebut meliputi gigi berlubang, perubahan warna gigi, nyeri gigi, hingga gangguan pada gusi.

Penelitian yang melibatkan 1.801 orang tua itu juga menemukan bahwa hanya sekitar tiga dari lima orang tua yang memastikan anak mereka menyikat gigi dua kali sehari sesuai anjuran.

Selain itu, keluhan bau mulut pada anak masih sering dianggap sepele. Padahal, bau mulut yang terjadi terus-menerus dapat menjadi tanda kurangnya kebersihan mulut atau adanya gangguan kesehatan gigi yang memerlukan penanganan.

Baca juga :  DPR Gelar Rapat Paripurna ke-22, Bahas Laporan BPK hingga Permohonan Naturalisasi

Dokter gigi Kami Hoss menjelaskan bahwa masalah kesehatan gigi yang tidak ditangani dapat memicu berbagai komplikasi.

“Gigi berlubang adalah masalah nomor satu, diikuti oleh radang gusi, erosi enamel, dan apa yang saya sebut sebagai ketidakseimbangan mikrobioma,” kata dokter gigi Kami Hoss.

Menurutnya, ketidakseimbangan mikrobioma dapat menyebabkan bau mulut kronis, gigi berlubang berulang, hingga penyakit gusi sejak usia dini.

Lebih jauh, dampak kerusakan gigi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Masalah gigi yang terlihat jelas sering menjadi sasaran perundungan di lingkungan sekolah.

Masih mengutip KOMPAS.com, sebuah penelitian pada 2013 menyebutkan kondisi gigi menjadi salah satu alasan utama anak mengalami ejekan dari teman sebaya. Akibatnya, anak bisa kehilangan rasa percaya diri, enggan bersekolah, hingga mengalami isolasi sosial dan depresi.

Baca juga :  Inflamasi Kronis Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke, Kenali Bahayanya

Rasa sakit akibat gigi berlubang yang tidak segera diobati juga dapat memengaruhi perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Seorang anak dengan gigi berlubang yang tidak dirawat mungkin hidup dengan rasa sakit ringan setiap hari,” ujar dr. Hoss.

Menurutnya, rasa sakit yang berlangsung terus-menerus dapat membuat anak menjadi lebih mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami perubahan emosi.

Para ahli mengingatkan pentingnya membiasakan anak menyikat gigi minimal dua kali sehari, membatasi konsumsi makanan dan minuman manis, serta melakukan pemeriksaan gigi secara rutin agar kesehatan mulut tetap terjaga sekaligus mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Sumber: KOMPAS.com.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami