PASURUAN, GEMADIKA.com – Jagad media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya video viral yang menampilkan battle sound horeg di kawasan pesisir Pasuruan, Jawa Timur. Fenomena yang merupakan bagian dari perayaan Lebaran Ketupat ini memicu kekhawatiran serius terkait dampaknya terhadap ekosistem laut.
Dalam rekaman video amatir yang tersebar luas, terlihat sejumlah perahu nelayan yang mengangkut sound system berukuran besar dengan volume sangat keras di sepanjang pesisir. Lebih dari 100 orang, mayoritas anak muda, tampak berjoget dan jingkrak-jingkrak di atas perahu layar motor sambil menikmati duel sound system tersebut.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), lembaga penelitian kelautan asal Amerika Serikat, dalam kajiannya menegaskan bahwa suara bising semacam itu dapat mengganggu sistem komunikasi satwa laut seperti paus dan lumba-lumba.
“Gangguan ini bisa menyebabkan stres, perubahan perilaku, bahkan kematian pada satwa laut,” tulis hasil kajian NOAA dalam sebuah unggahan di akun Instagram @fakta.indo.
Kekhawatiran tidak berhenti sampai di situ. Getaran dari suara yang begitu kuat juga berpotensi merusak terumbu karang, rumah alami bagi ribuan spesies laut yang menjadi tulang punggung ekosistem perairan Nusantara. Praktik ini dinilai semakin memperbesar ancaman terhadap kelestarian ekosistem laut Indonesia yang kini terus tergerus berbagai aktivitas destruktif.
Kasubnit Lidik Polairud Pasuruan, Aipda Laswanto, membenarkan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat perayaan Lebaran Ketupat pada April 2025 lalu, sebuah tradisi yang dilaksanakan tujuh hari setelah Idul Fitri.
“Iya benar. Itu (video yang viral) di Dusun Pasir Panjang, Desa Wates, Kecamatan Nguling dan Desa Semedusari, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan,” kata Laswanto, Minggu (18/5/2025).
Namun, Laswanto juga meluruskan kabar yang beredar bahwa battle sound horeg tersebut dilakukan di tengah laut. Menurutnya, kegiatan tersebut hanya dilakukan di sepanjang garis pantai.
“Kapal yang dirakit tidak memungkinkan karena ombaknya terlalu besar. Berat sound terlalu berat sehingga kapal yang dirakit tidak mampu menahan beban. Kalau dipaksakan masuk lebih jauh ke laut, tentu akan berpotensi terjadi kecelakaan laut,” jelasnya.
Kasi Humas Polres Pasuruan Kota, Aipda Junaidi, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan aksi spontanitas warga dan tidak memiliki izin resmi dari pihak kepolisian, meskipun dilaporkan mendapat dukungan dari pemerintah desa setempat dan digagas secara swadaya oleh warga.
“Kegiatan tersebut merupakan aksi spontanitas warga dan tanpa izin dari polisi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Laswanto menyebut hingga saat ini belum ditemukan lagi kegiatan serupa di lokasi tersebut setelah momen Lebaran Ketupat berlalu.
“Selain di saat Lebaran Ketupat, kami tidak menemukan lagi aksi serupa,” tambahnya.
Meski secara hukum belum ada aturan khusus yang melarang sound horeg di laut, secara ekologis aktivitas itu jelas membahayakan ekosistem laut. Gangguan suara buatan manusia sudah lama menjadi salah satu ancaman tersembunyi bagi kehidupan biota laut.
NOAA, dalam kajiannya, juga menegaskan kembali bahaya suara keras di lingkungan perairan. Tidak hanya mamalia laut, getaran suara berintensitas tinggi juga dapat merusak terumbu karang, struktur bawah laut yang sangat vital bagi keberlangsungan populasi spesies perairan tropis.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah upaya berbagai pihak untuk menjaga kelestarian laut Indonesia yang kaya keanekaragaman hayati.
Diketahui, saat ini kegiatan battle sound horeg di darat sudah dilarang oleh petugas, seperti halnya pelarangan sahur on the road selama bulan Ramadhan.
Ke depan, pihak kepolisian berencana akan berkoordinasi dengan Dinas Perikanan untuk membahas kemungkinan pelarangan kegiatan serupa di wilayah laut.
“Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perikanan untuk membahas kemungkinan pelarangan aktivitas serupa di laut,” ujar Aipda Junaidi.
Fenomena ini menambah daftar panjang tantangan dalam menjaga keseimbangan antara tradisi budaya dan kelestarian lingkungan di Indonesia, khususnya di wilayah pesisir yang kaya akan sumber daya alam.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan