KARAWANG, GEMADIKA.com – Kasus pembullyan menimpa siswi SD Negeri di Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang. anak perempuan berinisial NER, siswa kelas 6 yang dikenal berprestasi, kini harus merasakan penderitaan fisik dan mental setelah mengalami bullying dari teman sekelasnya sendiri.
Kejadian yang terjadi pada 6 November 2024 lalu itu mengakibatkan NER patah tulang. Yang lebih memprihatinkan, ternyata ini bukan kali pertama NER mengalami perundungan dari pelaku yang sama.
Pola Perilaku Pelaku Terungkap
Nurmala, guru kelas 6 di sekolah tersebut, mengungkapkan bahwa siswa laki-laki pelaku perundungan memang telah lama menunjukkan perilaku bermasalah. Terduga pelaku dikenal sering mengganggu teman-temannya, khususnya murid perempuan.
“Kalau lihat dari sisi psikolog, dia memang senang jahili temannya. Kayak ada kesenangan tersendiri,” ujar Nurmala, Kamis (27/11/2025), dilansir dari TribunBekasi.com.
Menurutnya, kelakuan nakal dan jahil siswa laki-laki tersebut lebih banyak diarahkan pada teman perempuan. Terduga pelaku bahkan lebih banyak bermain bersama siswa perempuan ketimbang teman laki-lakinya.
“Sebenarnya anaknya nggak gagah. Jailnya itu ke perempuan aja. Soalnya ruang lingkupnya ama perempuan. Anak laki-laki kalau main bola, dia mah ya di dalem kelas aja,” ucapnya.
Yang menjadi perhatian serius adalah sikap orangtua pelaku yang kerap membela anaknya meskipun jelas-jelas bersalah. Pola pembelaan ini diduga turut membentuk perilaku bermasalah pada anak.
“Perangainya doang. Soalnya selalu dapat pembelaan dari orangtua walaupun salah. Hal sepele juga pasti laporan,” katanya.
Kontras dengan Korban yang Berprestasi
Berbanding terbalik dengan pelaku, NER justru dikenal sebagai siswa berprestasi yang aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik.
“Dia langganan prestasi. Lomba pidato juara kabupaten, OSN MIPA juga juara kabupaten. Dia bagus lah. Sering ikut les juga,” ujar Nurmala dengan nada prihatin.
Mediasi Gagal, Keluarga Tempuh Jalur Hukum
Pihak sekolah mengaku telah berupaya memfasilitasi mediasi antara keluarga korban dan pelaku. Namun, upaya damai tersebut menemui jalan buntu karena keluarga korban merasa tidak ada itikad baik dari pihak pelaku.
“Mereka kecewa pihak terduga tidak ada itikad baik. Jadi kami sebagai sekolah ya gimana,” ujar Nurmala.
Rizka Puspitasari, ibu dari NER, mengungkapkan anaknya baru bercerita tentang perundungan yang dialaminya setelah menjalani operasi di rumah sakit. Ternyata, NER sudah berulang kali mengalami bullying dari pelaku yang sama.
“Iya ternyata pernah juga di sekolah. Enggak ngadu mungkin khawatirnya takut orang tuanya berantem apa gimana mungkin dewasanya sikap dia gitu kan, jadi enggak pernah ngadu apa-apa tuh ke orang tua,” kata Rizka, Kamis (27/11).
NER baru memberanikan diri bercerita setelah insiden terakhir yang membuatnya patah tulang. Saat itu, pelaku diduga menghina ayah NER, yang memicu emosi korban untuk mempertanyakan perilaku pelaku.
“Baru terbuka pas kejadian itu, mungkin dia juga kepancing emosi ya. Karena papanya dikata-katain, katanya, ‘A tadi tuh ngata-ngatain Papa, aku tuh sakit hati, makanya aku tanya, kamu tuh kenapa ke aku kayak gini, kamu kenapa ngata-ngatain Papa aku, dia gak nerima, dia malah meludahin aku, pas aku turun, dia turun, aku turun, dia malah nabrak aku’,” tutur Rizka menirukan perkataan sang anak.
Keputusan Rizka untuk meneruskan kasus ini ke ranah hukum semakin bulat setelah sikap keluarga pelaku yang dianggap menyepelekan kondisi putrinya saat proses mediasi.
“Malah bilangnya tuh sempat ada kata-kata, ‘Dulu anak saya juga pernah jatuh, diurut juga sembuh’, tapi kan ini posisinya beda, pertama itu jatuh sendiri, ini kan gara-gara ada sebab-akibatnya,” ujarnya.
Lokasi Kejadian Dekat Rumah
Kokom, bibi korban, menjelaskan peristiwa perundungan terjadi di gang samping rumah pelaku. Jarak antara rumah korban dan pelaku hanya sekitar 20 meter, menjadikan mereka tetangga dekat.
“Jatuhnya di sana samping rumah dia (A), pas pulang nangis-nangis ya Allah itu tangannya bengkok, si kakak ngadu itu mau ditonjok sama si A. Dari sana si A nggak jadi mukul, kabur dia, malah temannya si kakak dipukul,” jelasnya.
Pelaku Dipindahkan ke Sekolah Lain
Merespons kasus ini, siswa pelaku perundungan akhirnya dipindahkan ke sekolah lain. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Karawang, Wawan Setiawan, menjelaskan pemindahan tersebut merupakan keputusan bersama Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), pihak sekolah, keluarga, kecamatan, serta DP3A Karawang.
“Ini hasil musyawarah bersama. Setelah kejadian tanggal 6 November, sekitar seminggu kemudian langsung diputuskan untuk memutasi siswa tersebut,” ujar Wawan, Kamis (27/11/2025).
Wawan menegaskan langkah pemindahan bukan semata-mata sanksi, tetapi upaya menciptakan ruang aman bagi korban sekaligus memberikan kesempatan pembinaan yang lebih tepat kepada siswa terduga pelaku.
Terkait wacana memasukkan pelaku ke program pembinaan di barak militer, Wawan menjelaskan hal tersebut memiliki kriteria khusus dan tidak otomatis diterapkan.
“Untuk program pembinaan di barak, kriterianya lebih kepada siswa yang sering terlibat tawuran.”
“Untuk kasus ini, kami masih perlu mengkaji apakah masuk kriteria atau tidak. Dan itu juga masih siswa kelas VI,” kata dia.
Korban Trauma, Keluarga Berharap Pemulihan
Saat ini, NER masih dalam proses pemulihan, baik fisik maupun mental. Trauma yang dialaminya membuat NER enggan kembali ke sekolah.
“Kita hanya berharap kesembuhan sama anaknya, mentalnya juga down gitu kan, lagi benar-benar coba kita motivasi, ayo kak bangkit, kak sehat lagi, sembuh lagi,” pungkas Kokom dengan penuh harap.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya perhatian serius terhadap fenomena perundungan di lingkungan sekolah, serta peran aktif orangtua dan institusi pendidikan dalam mencegah dan menangani kasus bullying. ()





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan