SUMEDANG, GEMADIKA.com — Kasus keracunan massal di Pondok Pesantren Nuurush Sholah, Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, terus berkembang. Jumlah korban yang semula 116 orang kini melonjak menjadi 177 orang per Senin (22/12/2025) pukul 12.00 WIB.

Camat Cimanggung, Agus Wahyudin, menyampaikan data terbaru korban yang terdiri dari 161 santri, 10 pengurus pesantren, 1 pimpinan pesantren, dan 5 orang keluarga donatur.

“Hingga pukul 12.00, jumlah korban jadi 177. 161 orang di antaranya merupakan santri, 10 orang pengurus pesantren, 1 pimpinan pesantren, dan 5 orang keluarga donatur,” kata Agus Wahyudin saat dihubungi TribunJabar.id, Senin (22/12/2025).

Kejadian bermula saat para santri menyantap hidangan dari seorang donatur pada Kamis malam (18/12/2025) sekitar pukul 22.00 WIB. Esok harinya, Jumat (19/12/2025), gejala keracunan mulai muncul dan terus berlangsung hingga Senin (22/12/2025).

Menurut laporan TribunJabar.id, makanan yang dikonsumsi berasal dari katering yang dimasak oleh sebuah dapur di Cikancung, Kabupaten Bandung. Para korban mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi hidangan tersebut.

Seluruh korban mendapatkan perawatan medis di sejumlah rumah sakit di Cicalengka, Jatinangor, dan Rancaekek. Mereka dirujuk ke Rumah Sakit Kesehatan Kerja (RSKK), RSUD Cikopo Cicalengka, RS AMC, RS Unpad, dan RS Harapan Keluarga.

Sebagian korban sudah diperbolehkan pulang setelah kondisi membaik, sementara korban lainnya masih dirawat di aula pesantren dan beberapa rumah sakit rujukan.

Merespons kejadian ini, Pemerintah Kabupaten Sumedang langsung mengambil langkah cepat dengan menetapkan kejadian ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah.

Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa ratusan santri tersebut. Ia langsung turun tangan menjenguk para santri yang dirawat di RS Unpad pada Senin (22/12/2025).

“Pemerintah daerah prihatin atas musibah ini. Untuk pembiayaan seluruh pasien akibat KLB ini, semuanya ditanggung oleh Pemerintah Daerah,” ujar Dony.

Bupati Dony menginstruksikan Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) untuk mengawal proses pelayanan medis hingga administrasi pembiayaan, sehingga tidak ada korban yang terkendala biaya.

“Nanti Kepala Dinas Kesehatan, Kabag Kesra dan perwakilan dari pesantren akan mengurusnya,” ucapnya kepada TribunJabar.id.

Kabar menggembirakan datang dari perkembangan kondisi para santri yang berangsur membaik. Di RS Unpad, saat ini hanya tersisa dua santri yang masih menjalani perawatan dan diperkirakan segera diperbolehkan pulang.

“Alhamdulillah, hampir semuanya sudah membaik. Tim dari Dinkes, pihak kecamatan, Baznas, hingga Forum Pengasuh Pesantren terus berkolaborasi agar penanganan tuntas,” katanya.

Untuk memastikan penanganan berjalan optimal, berbagai pihak terus berkoordinasi mulai dari Dinas Kesehatan, pihak kecamatan, Baznas, hingga Forum Pengasuh Pesantren. Kolaborasi ini dilakukan agar penanganan tuntas dan tidak ada korban yang terabaikan.

Terkait kejadian ini, Bupati Dony mengimbau seluruh pengelola lembaga pendidikan, khususnya pesantren, agar lebih waspada dan selektif dalam menerima bantuan makanan dari pihak luar.

“Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Perlu dilakukan check and re-check terhadap jenis dan kelayakan makanan yang dikonsumsi agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.

Pemerintah Kabupaten Sumedang berharap seluruh santri segera pulih sepenuhnya dan dapat kembali menjalankan aktivitas belajar serta pembinaan keagamaan di pesantren dengan aman dan tenang.

Pihak berwenang juga tengah melakukan investigasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti keracunan dan memastikan standar keamanan pangan di lingkungan pesantren lebih diperketat ke depannya.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami